Category:Other
Merasakan Kemeriahan Pesta Buku di Negeri “Ayat-Ayat Cinta”

Ayat Ayat Cinta Pada 22 Januari hingga 4 Februari 2008, di negeri Mesir diadakan pesta buku ke-40. ”Cairo International Book Fair” namanya. ”Pameran buku tahunan seperti yang digelar di Jakarta (Jakarta International Book Fair) terasa belum apa-apa jika dibandingkan dengan yang digelar di Mesir,” ujar Deden Ridwan, pimpinan Penerbit Hikmah, yang sempat menikmati keramaian pesta buku di Mesir. Apa saja yang diperoleh Deden Ridwan ketika berkunjung ke sana? Nikmati sajian tulisannya yang pernah dimuat di majalah Gatra edisi 5 Maret 2008.

Pesta Buku di Negeri Para Nabi
Oleh M. Deden Ridwan

GERAI-GERAI yang berjajar di lapangan seluas kurang lebih 10 hektare di kawasan Nasr City, Kairo, itu tampak sederhana saja. Ruang pamer milik lebih dari 250 penerbit yang mewakili berbagai negara dari seluruh dunia itu terkesan tak menampakkan kualitas seni yang tinggi. Kendati demikian, suasana klasik dan khas Mesir justru tampak begitu menonjol pada 12 hall yang ada situ.

Saking luasnya ruang pamer, sulit rasanya berkeliling menyambangi setiap gerai peserta ajang pameran itu. Tambahan lagi, setiap hari, pengunjung pameran yang diselenggarakan pada 22 Januari hingga 4 Februari lalu itu demikian padat. Pameran buku tahunan seperti yang digelar di Jakarta terasa belum apa-apa dibandingkan dengan pesta buku ke-40 di Mesir berjuluk Cairo International Book Fair itu.

Maklum, inilah pameran buku terbesar di dunia setelah pameran buku internasional tahunan Frankfurt. Ia juga menjadi ajang pameran buku Islam paling akbar selama ini. Lebih dari enam juta buku dengan berbagai tema ditampilkan dalam ajang internasional ini. Kebanyakan memang buku Islam berbahasa Arab di sela-sela buku bertema umum. Tapi kali ini tak muncul buku yang benar-benar fenomenal seperti pada pameran tahun-tahun silam, ketika Dr. Muhammad ‘Aidh Al-Qarni, dengan karyanya, La Tahzan, menjadi ikon pameran.

Di arena pameran ini, segala macam buku agama, dari pemikiran kiri hingga yang bercorak kanan, bisa ditemukan. Dari berbagai disiplin ilmu agama maupun ilmu umum. Mulai fiqih, ushul fiqih, ushuluddin, filsafat, hadis, tafsir, siyasyah (politik), sejarah Islam, dakwah hingga buku-buku doa dan tuntunan ibadah praktis pun tersedia. Sedangkan dari disiplin ilmu umum, terpajang buku-buku sastra, linguistik, self-help, bisnis, new age, ekonomi, manajemen, motivasi, pengembangan diri, hingga psikologi.

Bahkan, penerbit-penerbit Arab terkemuka mendirikan lebih dari satu gerai. Tengok saja Darul Fikr, Darul Maarif, Darus Shourouq, atau Darus Salam. Demikian juga penerbit Darul Wafa, International Islamic Publishing House, The American University of Cairo Press, Maktabah Ubeikan, Maktabah Al-Jarir, dan Maktabah Attaufiqiyyah tak ketinggalan memiliki beberapa gerai yang tersebar di arena pameran.

Penerbit-penerbit itulah yang kerap menjadi simbol dinamika perkembangan ilmu-ilmu keislaman di dunia Arab, khususnya Mesir. Selain itu, tampak juga gerai-gerai yang mewakili negara-negara Barat, seperti Perancis, Spanyol, Jerman, Belanda, dan Italia. Walau pesta buku ini berkaliber internasional, kesan dan aroma Timur Tengah atau Mesir terasa dominan.

Antusiasme pengunjung, terutama masyarakat Mesir, terhadap pameran ini luar biasa dahsyat. Setiap hari orang rela berjubel dalam antrean amat panjang untuk beli tiket masuk. Tak ada sehari pun yang tampak sepi. Mereka biasanya datang ke pameran rombongan: membawa istri, anak, kerabat dekat, dan kolega kerja.

Sore menjelang magrib, mereka kerap meninggalkan lokasi pameran, mencangking kantong plastik, tas besar atau troli berisi buku. Menyelami lautan buku di Kairo sungguh sebuah pandangan langka dan menakjubkan. Tak salah bila dikatakan bahwa Kairo adalah surga buku sekaligus surga ilmu.

Masyarakat Mesir boleh dibilang pecinta buku. Kecintaan itu punya akar historis yang kuat. Dinamika kehidupan masyarakat Mesir hampir tak bisa dipisahkan dari tiga entitas: Islam, buku dan ulama. Sebagai negeri para nabi dan ulama, Mesir secara antropologis kerap dikategorikan sebagai “tradisi agung”—meminjam istilah Robert Redfield. Sebuah negeri “pusat” yang punya kaitan geneakologis intelektual dengan kelahiran dan perkembangan the body of knowledge ilmu-ilmu keislaman.

Karena itu, dengan mengikuti perspektif Redfield tersebut, Mesir kerap dikategorikan sebagai salah satu negeri pusat peradaban Islam. Dan buku adalah bentuk aktualisasi paling nyata dari tradisi besar itu. Pun menjadi semacam simbol identitas masyarakat Mesir. Ketertarikan mereka pada buku otomatis merupakan kristalisasi rasa keberislaman dan bentuk pengkhidmatan yang tinggi kepada sosok ulama. Bagi mereka, buku seolah menjadi makanan bergizi yang menyehatkan secara intelektual dan spiritual.

Selanjutnya, spirit buku sebagai simpul tradisi besar tampak makin mengkristal karena Mesir juga punya universitas Al-Azhar. Sebuah universitas tertua yang acap disebut sebagai ‘Harvard-nya pusat studi-studi islam’. Di situ tempat lahirnya para penulis besar. Lewat universitas ini pula tradisi intelektual Islam menancapkan pengaruhnya ke penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Salah satu pengaruh fundamental tradisi intelektual itu adalah pudarnya budaya lisan dan munculnya budaya tulis-menulis serta tradisi berbeda pendapat. Budaya tulis-menulis yang lahir dari pusat Al-Azhar itu pada awalnya sering dikritik bersifat normatif, kurang eksploratif, dan miskin metodologis. Belakangan, arus perbukuan di Mesir sedang mengalami perubahan dahsyat.

‘‘Jika Anda ingin mengetahui apa yang berlangsung di sebuah zaman, cari tahulah tentang apa yang terjadi dengan para penulisnya. Para penulis, the town-criers, adalah barometer zaman“, ujar Ben Okri, penulis Afrika. Para penulis Mesir benar-benar sedang menatap zaman perubahan. Inovasi-inovasi baru pemahaman keagamaan muncul dalam segala bidang disiplin ilmu. Islam tidak semata dipahami sebagai sebuah sistem keyakinan, melainkan juga sebagai disiplin ilmu.

Aspek-aspek keagamaan dikaji secara ilmiah dengan pendekatan ilmu-ilmu modern. Banyak penulis besar Mesir yang umumnya alumni Al-Azhar kini mengadopsi sistem metodologi ilmu pengetahuan Barat untuk menjelaskan aspek-aspek keislaman. Dr. Zaghlul An-Najar dengan Tafsir Al-Ayat Al-Kauniyah dan Dr. M. Abd. Hamid Asy-Syarqawi dengan Al-Ka’bah Al-Masyrifah (Ru’yah Ilmiyyah) adalah dua contoh fenomenal. Anggapan-anggapan bahwa karya alumni Al-Azhar “kering” dan “miskin metodologi” pun runtuh.

Walhasil, Mesir kini menjadi pusat perkembangan buku-buku Islam yang amat berpengaruh di Timur tengah. Tidak mengherankan pula bila pesta buku di Kairo ini menjadi tempat yang selalu diburu para praktisi dunia penerbitan buku-buku Islam di Indonesia. Setiap tahun, mereka mengirim utusan ke Kairo. Bahkan dari tahun ke tahun pesertanya terus bertambah. Selama di Kairo, mereka memburu buku, hak penerbitan, bahkan menjalin hubungan pribadi dengan para penulis terkemuka.

Sayangnya, di tengah gelombang perubahan besar dan kuatnya apreasiasi dunia perbukuan pada Mesir, muncul sebuah paradoks. Tengoklah lingkungan di sekitar kota-kota Mesir. Anda akan menemukan pandangan kumuh yang tidak enak dilihat dan dirasa. Jalan-jalan sangat kotor. Toilet-toilet bau “amis” luar biasa. Sampah berantakan. Tembok-tembok di sekitar kampus Al-Azhar tercium aroma bau kencing. Lalu lintas di jalan raya semrawut. Bahkan, aroma lebih tidak sedap begitu terasa di kawasan pinggiran Kairo.

Fenomena itu agaknya menampakkan bahwa nilai-nilai Islam yang tersimpul dalam buku-buku belum mewarnai kehidupan masyarakat. Islam baru sebatas teks, belum menjadi sistem nilai yang benar-benar meresap ke dalam kehidupan sehari-hari. Islam baru menjadi hiasan indah, belum menjadi way of life. Islam masih bergema dan berhenti di kampus, di lorong-lorong masjid, di rak-rak perpustakaan, di toko-toko buku, dan tentu saja pada pameran buku yang megah. Inilah paradoks di “negeri para nabi” itu.

Dari paradoks itulah kini Mesir membutuhkan evolusi peradaban radikal. Pusat-pusat kajian Islam dan para penulis Mesir sudah saatnya mulai mengkaji Islam tidak semata-mata secara normatif, melainkan juga harus mulai mengkaji Islami secara sosiologis-antropologis dengan kehidupan sehari-hari sebagai ilustrasi. Artinya, yang dikaji dan diikat dalam sebuah buku, tidak lagi hanya Islam yang ada dalam teks-teks kitab suci, melainkan juga living Islam in local context.

Dengan cara itu rasa keberislaman diharapkan akan lebih teruji secara empiris. Islam menjadi membumi dalam budaya hidup bersih, ramah lingkungan, tidak buang sampah sembarangan, dan lalu lintas tertib. Islam menjadi sebuah nilai praktis.[]

nunungzulanwar wrote on Apr 20
Wah, asik ya mas yah? Kalau Cairo deket aja dari sini pasti aku dan keluarga kesana deh liat pameran bukunya tapi sebenernya nggak ada pameran juga pengen banget ke Mesir... Mudah-mudahan ada umur dan rejeki jadi bisa maen kesana.
amaher wrote on Apr 20
Wah, asik ya mas yah? Kalau Cairo deket aja dari sini pasti aku dan keluarga kesana deh liat pameran bukunya tapi sebenernya nggak ada pameran juga pengen banget ke Mesir... Mudah-mudahan ada umur dan rejeki jadi bisa maen kesana.
insya Allah...semoga bisa ke Cairo :) Nurahhibu bikum fi Masr :)
ibnuabidin wrote on Apr 21
mahir, buku amanatnya sudah dibeli belum, entar ana adakan inspeksi :)
Add a Comment
How would you rate this thing? (optional)
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help