| Category: | Books |
| Genre: | Literature & Fiction |
| Author: | Stevens dan Schmidgall-Tellings |
Apa Kata Remy Sylado tentang Kamus Lengkap Indonesia-Inggris karya Stevens dan Schmidgall-Tellings?
Islamkemodernan dan keindonesiaan Penerbit Mizan baru saja mencetak edisi kedua Kamus Lengkap Indonesia-Inggris karya Alan M. Stevens, doktor di bidang linguistik dan bahasa Indonesia dari Yale University, dan A. Ed. Schmidgall-Tellings, seorang penerjemah lepas dan penulis banyak buku dan artikel tentang bahasa Indonesia. Kamus ini merupakan kamus Indonesia-Inggris paling modern dan lengkap yang tersedia pada saat ini. Mudah dipakai dan sangat bermanfaat bagi orang Indonesia di segala bidang profesi yang ingin mempertajam, menepatkan, dan memfasihkan kegiatan berkomunikasinya.
”Salah satu hal yang membuat kamus karya Stevens dan Schmidgall-Tellings ini lain dari kamus-kamus Indonesia-Inggris terdahulu adalah dimasukkannya banyak kata baru dari bahasa-bahasa daerah yang bahkan belum dicatat oleh kamus resmi bahasa Indonesia; taruh misalnya Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dengan penyelia Anton M. Moeliono, serta sumbernya Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) oleh W.J.S. Poerwadarminta, serta Kamus Modern Bahasa Indonesia (KMBI) oleh Muhammad Zain yang kemudian dibongkar-pasang oleh J.S. Badudu menjadi Kamus Umum Bahasa Indonesia,” demikian komentar Remy Sylado. Silakan nikmati ulasan Alif Danya Munsyi tentang kamus ini. (pernah dimuat koran Pikiran Rakyat, 13 Agustus 2005)
Lengkapkah Kamus Lengkap?
Oleh ALIF DANYA MUNSYI
SEBAIKNYA, orang yang belajar bahasa, jangan hanya memiliki satu kamus saja. Sebab, boleh jadi kamus yang satu lebih rinci menerangkan suatu lema tertentu dan kamus yang lain tidak. Sebaliknya, bisa saja pada lema yang lain kamus yang satu kurang lengkap dibanding kamus yang lain. Ini biasa terjadi. Dan, justru dari banyak pengertian kata yang dibaca dalam kamus-kamus tersebut, orang dapat mencamkan dengan lebik baik mengenai pelbagai makna dari sebuah lema dari bahasa yang dipelajarinya itu.
Sekarang ini ada lagi satu kamus yang baru beredar. Namanya Kamus Lengkap Indonesia-Inggris (selanjutnya disingkat KLII). Penyusunnya Alan M. Stevens dan A. Ed. Schmidgael-Tellings. Penerbitnya Mizan.
Karena judulnya menerakan kata "lengkap", maka sudah tentu harapan pemakainya, kamus ini lebih memuaskan dalam menerangkan dan memberi arti terhadap semua lema yang dicatat ketimbang kamus-kamus yang telah lebih dulu ada; taruhlah misalnya Kamus Umum Indonesia Inggris (KUII) oleh Prof. Drs. S. Wojowasito dan Kamus Indonesi-Inggris (KII) oleh John M. Echols dan Hassan Shadili.
Untuk menguji sampai sejauh mana kata "lengkap" berhak disandang KLII, tentulah harus dengan memukabalahkannya dengan KUII dan KII. Saya kira, cara yang paling sederhana menyimak mukabalah itu adalah dengan melihat dari sudut pandang visual saja atas sisi grafika, yaitu berapa jumlah regel yang diperlukan untuk menerangkan sebuah lema. Regel yang lebih banyak sudah tentu berarti banyak pula kumpulan huruf yang dibangun menjadi kata dan kata menjadi kalimat, lalu kalimat-kalimat itulah yang memberikan pengertian kepada pembaca mengenai lema-lema bersangkutan.
Coba kita perhatikan jumlah-jumlah regel yang diacu untuk lema-lema tertentu dalam mukabalah di bawah ini (lihat tabel). Dengan menghitung jumlah regel untuk melihat panjangnya keterangan terhadap sebuah lema tertentu sebagaimana yang terbaca dalam contoh-contoh di atas, maka tahulah kita bahwa KLII yang ditaruh di urutan pertama ini memang nyata lebih lengkap dibanding dengan kamus yang lain. Oleh karena itu, dapatlah dibayangkan bahwa kamus ini pasti dikerjakan dengan lebih banyak waktu untuk mengamati dan meneliti kata-kata dan bahasa-bahasa terpakai di antero Nusantara sehingga hasilnya karuan harus dibilang, kamus ini amat memuaskan bagi pemakainya.
Salah satu hal yang membuat KLII ini lain dari kamus-kamus Indonesia-Inggris terdahulu adalah dimasukkannya banyak kata baru dari bahasa-bahasa daerah yang bahkan belum dicatat oleh kamus resmi bahasa Indonesia; taruh misalnya Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dengan penyelia Anton M. Moeliono, serta sumbernya Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) oleh W.J.S. Poerwadarminta, serta Kamus Modern Bahasa Indonesia (KMBI) oleh Muhammad Zain yang kemudian dibongkar-pasang oleh J.S. Badudu menjadi Kamus Umum Bahasa Indonesia.
Di antara kata-kata baru yang dimaksud di atas adalah yang dipetik dari bahasa Minahasa --bahasa yang pernah diteliti dengan cermat oleh J.A.T. Schwarz pada abad ke-19-- antara lain bakupiara, baveto, cui, fufu, jo, ngana, opo, opo-opo, paniki, ponoso, rica-rica, RW 1 (rintek wuuk), tonaas, torang. Dari mana KLII memungut kata-kata yang diberinya tanda (Min), artinya Minahasa, ini, entah. Pertanyaan ini dirasa perlu sebab biasanya yang suka melintas-lintaskan kata-kata bahasa-ibu ke dalam bahasa resmi adalah para pesastra dalam karya-karya sastranya; sementara pesastra dari latab bahasa-ibu Minahasa dalam peta kesastraan Indonesia sangatlah sedikit, tidak sebanyak pesastra dari latar bahasa-ibu Minangkabau, Batak, Sunda, dan akhirnya Jawa.
Bahwa bahasa-bahasa daerah --khususnya Minangkabau dan kemudian Jawa, termasuk Sunda, amat banyak memenuhi kamus resmi bahasa Indonesia --termasuk KLII ini-- bisalah dimengerti, jika hal itu diingatkan oleh banyaknya pesastra dari latar bahasa-ibu masing-masing suku itu yang hadir dalam peta kesastraan Indonesia sejak zaman Balai Pustaka. Kita tahu, peran pesastra dengan latar bahasa-ibu --walaupun tanpa menunjuk dengan persis dan rinci akan contoh-contohnya dalam KLII ini-- toh boleh dibilang besar andilnya dalam pengembangan dan pembakuan bahasa Indonesia yang sekarang.
Sebelum kemerdekaan, penulis-penulis sastra Indonesia hampir seluruhnya berasal dari Sumatra, yaitu Minangkabau dan Batak. Sebuat saja, dari latar budaya Batak, yang lahir di ujung abad ke-19, Merari Siregar; kemudian dari dasawarsa pertama abad ke-20 abang-adik Sanusi dan Armijn Pane, lalu yang dilahirkan dasawarsa 1920-an Sitor Situmorang dan Iwan Simatupang serta Mochtar Lubis. Kemudian, para pesastra dari latar bahasa-ibu Minangkabau yang lahir di pengujung abad ke-19 adalah Marah Rusli, Nur Sutan Iskandar, Aman Dt. Madjoindo. Dan yang lahir di dasawarsa pertama abad ke-20 adalah Rustam Effendi, Muhammad Yamin, HAMKA, dan Sutan Takdir Alisjahbana. Tak heran, sejumlah kata bahasa Minangkabau lantas melintas ke dalam budaya Indonesia dan dibakukan oleh kamus-kamus resmi.
Setelah Indonesia merdeka, tampil pesastra-pesastra penting dari latar bahasa-ibu Sunda. Yang paling tua, lahir dari dasawarsa kedua abad ke-20 adalah Achdiat K. Mihardja dan Aoh K. Hadimadja; kemudian, dasawarsa berikut Utuy Tatang Sontani, Mh. Rustandi Kartakusumah, Ramadhan KH, Toto Sudarto Bachtiar,; dan dari dasawarsa 1930-an Ajip Rosidi. Lagi, tidaklah heran jika idiom-idiom Sunda menjadi napas dan roh budaya Indonesia melalui karya-karya sastra itu.
Kini, yang menentukan perkembangan sastra Indonesia --yang otomatis boleh diartikan juga perkembangan bahasa nasionalnya-- adalah pesastra-pesastra dari latar bahasa-ibu Jawa. Yang amat penting disebut, dari kelahiran dasawarsa 1920-an adalah Subagio Sastrowardojo dan Pramoedya Ananta Toer; kemudian dari 1930-an Kirdjomuljo, Harijadi S. Hartowardojo, Nugroho Notosusanto, Umar Kayam, WS Rendra, Budi Darma; dan dari 1940-an Kuntowijoyo, Sapardi Djoko Damono, dan Goenawan Mohamad. Maka, janganlah heran jika kata-kata bahasa Jawa, mulai dari Kami, Kromo-hinggil, sampai Ngoko, melintas dengan leluasa dalam tatanan bahasa Indonesia melalui tulisan-tulisan para pesastra.
Ada beberapa pula kata bahasa Jawa, yang bahkan belum masuk di dalam KBBI, tetapi sudah dicatat di KLII ini. Dua di antaranya adalah "usreg" dan "slilit". Seingat saya,"usreg" pertama kali muncul dalam salah satu tulisan Goenawan Mohamad di majalah Zaman dan "slilit" pertama kali muncul melalui tulisan Emha Ainun Nadjib. Dan, jika kita baca "Para Priyayi", kita temukan begitu banyak kata bahasa Jawa yang diacu Umar Kayam, mulai dari halaman pertama sampai akhir. Kata-kata itu belum dicatat oleh KBBI, tetapi malah sudah muncul di KLII, antara lain "sengak", "kecing", bahkan "jembut".
Sementara kata-kata bahasa Sunda, yang muncul dalam puisi penyair berlatar bahasa-ibu Sunda, yang juga belum dicatat oleh KBBI tetapi sudah masuk dalam KLII, antara lain "ngungu" dalam "Tanah Kelahiran" dari kumpulan puisi Ramadhan KH, "Priangan si Jelita"; dan "rokok kawung" --jenis rokok paling dikenal kalangan petani dan jelata di Priangan-- dalam "Nyanyian Dinihari" dari kumpulan puisi Ajip Rosidi, "Surat Cinta Enday Rasidin".
Kesimpulannya, KLII bukan saja hanya lengkap dibanding KUII dan KII, namun juga lengkap dibanding KBBI. Tetapi, saking predikat lengkap itu hendak diperhatikan, maka ada pula kata-kata yang tergolong aneh dilengkap-lengkapkan di dalamnya, misalnya "dangdutwan" (male pop musician) dan "hondawan" (a Honda motorcyclist).
Sementara, salah satu lema yang keterangannya kurang tepat adalah "mbeling" (disobedient, insubordinate, to offer passive resistance, unconvensional). Saya kira, keterangan KII secara leksikal lebih tepat, naughty of children. Tetapi, memang menyangkut gerakan yang dicetuskan di Bandung pada 1972, maka keterangan guru besar Marshal Clark dari University of Tasmania sebaiknya diperbandingkan di sini; "This meaning has also taken on the connotation of witty playfulness or mischievousness. In termas of modern Indonesian literary studies, the word mbeling has been associated with Remy Sylado's puisi mbeling, antiestablishment poetry, poetry that subverts the social, political, or literary status quo." (Catatan ini diberikannya di sebuah kelas di University of Melbourne ketika berlangsung Sixth National Conference of the Australian Society of Indonesian Language Educator, 10-12 Juli 2001).
Selain itu, aneh juga, pada entri seni tertera kata "seni murahan". Dikatakan, lema ini dalam bahasa Inggrisnya kitch. Timbul pertanyaan, apa itu kitch dalam bahasa Inggris? Baik New Webster Dictionary yang dilengkapi dengan Roget's Thesaurus maupun Webster Approved Dictionary yang dilengkapi dengan Dictionary of American Slang, serta The American Heritage Dictionary dan Longman Dictionary of English Language and Culture', bahkan Encyclopedia Americana, tidak menunjukkab bahwa kitch adalah bahasa Inggris.
Jadi, dari mana kata itu?
Kalau yang dimaksud adalah "seni murahan", niscaya kata itu akan tersua di kamus-kamus bahasa Jerman. Namun, dalam bahasa Jerman, "seni murahan" itu harus ditulis dengan huruf "s" di tengah-tengah antara "t" dan "c", yaitu "kitsch". Jadi, bukan tanpa "s" seperti yang diacu KLII. Kata kitsch berasal dari abad ke-19, di Muenchen, Jerman, ketika orang memukabalahkan tentang seni yang bernapas panjang dan yang semata-mata hiburan. Di Indonesia, kata kitsch pernah populer pada 1950-an melalui tulisan-tulisan kritik musik Amir Pasaribu.
Barangkali di situlah benarnya anjuran tadi, bahwa sebaiknya orang yang belajar bahasa jangan hanya memiliki satu saja kamus. Seseorang tidak pernah mengerti mukabalah "lengkap" dan "kurang" jika kamus yang dimilikinya cuma satu.[]