Buku "Konsep Negara & Gerakan Islam Baru -- Menuju Negara Modern Sejahtera"
Anton Winardi Merasakan Kemeriahan Pesta Buku di Negeri “Ayat-Ayat Cinta”
Ayat Ayat Cinta Pada 22 Januari hingga 4 Februari 2008, di negeri Mesir diadakan pesta buku ke-40. ”Cairo International Book Fair” namanya. ”Pameran buku tahunan seperti yang digelar di Jakarta (Jakarta International Book Fair) terasa belum apa-apa jika dibandingkan dengan yang digelar di Mesir,” ujar Deden Ridwan, pimpinan Penerbit Hikmah, yang sempat menikmati keramaian pesta buku di Mesir. Apa saja yang diperoleh Deden Ridwan ketika berkunjung ke sana? Nikmati sajian tulisannya yang pernah dimuat di majalah Gatra edisi 5 Maret 2008.
Pesta Buku di Negeri Para Nabi Oleh M. Deden Ridwan
GERAI-GERAI yang berjajar di lapangan seluas kurang lebih 10 hektare di kawasan Nasr City, Kairo, itu tampak sederhana saja. Ruang pamer milik lebih dari 250 penerbit yang mewakili berbagai negara dari seluruh dunia itu terkesan tak menampakkan kualitas seni yang tinggi. Kendati demikian, suasana klasik dan khas Mesir justru tampak begitu menonjol pada 12 hall yang ada situ.
Saking luasnya ruang pamer, sulit rasanya berkeliling menyambangi setiap gerai peserta ajang pameran itu. Tambahan lagi, setiap hari, pengunjung pameran yang diselenggarakan pada 22 Januari hingga 4 Februari lalu itu demikian padat. Pameran buku tahunan seperti yang digelar di Jakarta terasa belum apa-apa dibandingkan dengan pesta buku ke-40 di Mesir berjuluk Cairo International Book Fair itu.
Maklum, inilah pameran buku terbesar di dunia setelah pameran buku internasional tahunan Frankfurt. Ia juga menjadi ajang pameran buku Islam paling akbar selama ini. Lebih dari enam juta buku dengan berbagai tema ditampilkan dalam ajang internasional ini. Kebanyakan memang buku Islam berbahasa Arab di sela-sela buku bertema umum. Tapi kali ini tak muncul buku yang benar-benar fenomenal seperti pada pameran tahun-tahun silam, ketika Dr. Muhammad ‘Aidh Al-Qarni, dengan karyanya, La Tahzan, menjadi ikon pameran.
Di arena pameran ini, segala macam buku agama, dari pemikiran kiri hingga yang bercorak kanan, bisa ditemukan. Dari berbagai disiplin ilmu agama maupun ilmu umum. Mulai fiqih, ushul fiqih, ushuluddin, filsafat, hadis, tafsir, siyasyah (politik), sejarah Islam, dakwah hingga buku-buku doa dan tuntunan ibadah praktis pun tersedia. Sedangkan dari disiplin ilmu umum, terpajang buku-buku sastra, linguistik, self-help, bisnis, new age, ekonomi, manajemen, motivasi, pengembangan diri, hingga psikologi.
Bahkan, penerbit-penerbit Arab terkemuka mendirikan lebih dari satu gerai. Tengok saja Darul Fikr, Darul Maarif, Darus Shourouq, atau Darus Salam. Demikian juga penerbit Darul Wafa, International Islamic Publishing House, The American University of Cairo Press, Maktabah Ubeikan, Maktabah Al-Jarir, dan Maktabah Attaufiqiyyah tak ketinggalan memiliki beberapa gerai yang tersebar di arena pameran.
Penerbit-penerbit itulah yang kerap menjadi simbol dinamika perkembangan ilmu-ilmu keislaman di dunia Arab, khususnya Mesir. Selain itu, tampak juga gerai-gerai yang mewakili negara-negara Barat, seperti Perancis, Spanyol, Jerman, Belanda, dan Italia. Walau pesta buku ini berkaliber internasional, kesan dan aroma Timur Tengah atau Mesir terasa dominan.
Antusiasme pengunjung, terutama masyarakat Mesir, terhadap pameran ini luar biasa dahsyat. Setiap hari orang rela berjubel dalam antrean amat panjang untuk beli tiket masuk. Tak ada sehari pun yang tampak sepi. Mereka biasanya datang ke pameran rombongan: membawa istri, anak, kerabat dekat, dan kolega kerja.
Sore menjelang magrib, mereka kerap meninggalkan lokasi pameran, mencangking kantong plastik, tas besar atau troli berisi buku. Menyelami lautan buku di Kairo sungguh sebuah pandangan langka dan menakjubkan. Tak salah bila dikatakan bahwa Kairo adalah surga buku sekaligus surga ilmu.
Masyarakat Mesir boleh dibilang pecinta buku. Kecintaan itu punya akar historis yang kuat. Dinamika kehidupan masyarakat Mesir hampir tak bisa dipisahkan dari tiga entitas: Islam, buku dan ulama. Sebagai negeri para nabi dan ulama, Mesir secara antropologis kerap dikategorikan sebagai “tradisi agung”—meminjam istilah Robert Redfield. Sebuah negeri “pusat” yang punya kaitan geneakologis intelektual dengan kelahiran dan perkembangan the body of knowledge ilmu-ilmu keislaman.
Karena itu, dengan mengikuti perspektif Redfield tersebut, Mesir kerap dikategorikan sebagai salah satu negeri pusat peradaban Islam. Dan buku adalah bentuk aktualisasi paling nyata dari tradisi besar itu. Pun menjadi semacam simbol identitas masyarakat Mesir. Ketertarikan mereka pada buku otomatis merupakan kristalisasi rasa keberislaman dan bentuk pengkhidmatan yang tinggi kepada sosok ulama. Bagi mereka, buku seolah menjadi makanan bergizi yang menyehatkan secara intelektual dan spiritual.
Selanjutnya, spirit buku sebagai simpul tradisi besar tampak makin mengkristal karena Mesir juga punya universitas Al-Azhar. Sebuah universitas tertua yang acap disebut sebagai ‘Harvard-nya pusat studi-studi islam’. Di situ tempat lahirnya para penulis besar. Lewat universitas ini pula tradisi intelektual Islam menancapkan pengaruhnya ke penjuru dunia, termasuk Indonesia.
Salah satu pengaruh fundamental tradisi intelektual itu adalah pudarnya budaya lisan dan munculnya budaya tulis-menulis serta tradisi berbeda pendapat. Budaya tulis-menulis yang lahir dari pusat Al-Azhar itu pada awalnya sering dikritik bersifat normatif, kurang eksploratif, dan miskin metodologis. Belakangan, arus perbukuan di Mesir sedang mengalami perubahan dahsyat.
‘‘Jika Anda ingin mengetahui apa yang berlangsung di sebuah zaman, cari tahulah tentang apa yang terjadi dengan para penulisnya. Para penulis, the town-criers, adalah barometer zaman“, ujar Ben Okri, penulis Afrika. Para penulis Mesir benar-benar sedang menatap zaman perubahan. Inovasi-inovasi baru pemahaman keagamaan muncul dalam segala bidang disiplin ilmu. Islam tidak semata dipahami sebagai sebuah sistem keyakinan, melainkan juga sebagai disiplin ilmu.
Aspek-aspek keagamaan dikaji secara ilmiah dengan pendekatan ilmu-ilmu modern. Banyak penulis besar Mesir yang umumnya alumni Al-Azhar kini mengadopsi sistem metodologi ilmu pengetahuan Barat untuk menjelaskan aspek-aspek keislaman. Dr. Zaghlul An-Najar dengan Tafsir Al-Ayat Al-Kauniyah dan Dr. M. Abd. Hamid Asy-Syarqawi dengan Al-Ka’bah Al-Masyrifah (Ru’yah Ilmiyyah) adalah dua contoh fenomenal. Anggapan-anggapan bahwa karya alumni Al-Azhar “kering” dan “miskin metodologi” pun runtuh.
Walhasil, Mesir kini menjadi pusat perkembangan buku-buku Islam yang amat berpengaruh di Timur tengah. Tidak mengherankan pula bila pesta buku di Kairo ini menjadi tempat yang selalu diburu para praktisi dunia penerbitan buku-buku Islam di Indonesia. Setiap tahun, mereka mengirim utusan ke Kairo. Bahkan dari tahun ke tahun pesertanya terus bertambah. Selama di Kairo, mereka memburu buku, hak penerbitan, bahkan menjalin hubungan pribadi dengan para penulis terkemuka.
Sayangnya, di tengah gelombang perubahan besar dan kuatnya apreasiasi dunia perbukuan pada Mesir, muncul sebuah paradoks. Tengoklah lingkungan di sekitar kota-kota Mesir. Anda akan menemukan pandangan kumuh yang tidak enak dilihat dan dirasa. Jalan-jalan sangat kotor. Toilet-toilet bau “amis” luar biasa. Sampah berantakan. Tembok-tembok di sekitar kampus Al-Azhar tercium aroma bau kencing. Lalu lintas di jalan raya semrawut. Bahkan, aroma lebih tidak sedap begitu terasa di kawasan pinggiran Kairo.
Fenomena itu agaknya menampakkan bahwa nilai-nilai Islam yang tersimpul dalam buku-buku belum mewarnai kehidupan masyarakat. Islam baru sebatas teks, belum menjadi sistem nilai yang benar-benar meresap ke dalam kehidupan sehari-hari. Islam baru menjadi hiasan indah, belum menjadi way of life. Islam masih bergema dan berhenti di kampus, di lorong-lorong masjid, di rak-rak perpustakaan, di toko-toko buku, dan tentu saja pada pameran buku yang megah. Inilah paradoks di “negeri para nabi” itu.
Dari paradoks itulah kini Mesir membutuhkan evolusi peradaban radikal. Pusat-pusat kajian Islam dan para penulis Mesir sudah saatnya mulai mengkaji Islam tidak semata-mata secara normatif, melainkan juga harus mulai mengkaji Islami secara sosiologis-antropologis dengan kehidupan sehari-hari sebagai ilustrasi. Artinya, yang dikaji dan diikat dalam sebuah buku, tidak lagi hanya Islam yang ada dalam teks-teks kitab suci, melainkan juga living Islam in local context.
Dengan cara itu rasa keberislaman diharapkan akan lebih teruji secara empiris. Islam menjadi membumi dalam budaya hidup bersih, ramah lingkungan, tidak buang sampah sembarangan, dan lalu lintas tertib. Islam menjadi sebuah nilai praktis.[]
| Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Stevens dan Schmidgall-Tellings |
Apa Kata Remy Sylado tentang Kamus Lengkap Indonesia-Inggris karya Stevens dan Schmidgall-Tellings?
Islamkemodernan dan keindonesiaan Penerbit Mizan baru saja mencetak edisi kedua Kamus Lengkap Indonesia-Inggris karya Alan M. Stevens, doktor di bidang linguistik dan bahasa Indonesia dari Yale University, dan A. Ed. Schmidgall-Tellings, seorang penerjemah lepas dan penulis banyak buku dan artikel tentang bahasa Indonesia. Kamus ini merupakan kamus Indonesia-Inggris paling modern dan lengkap yang tersedia pada saat ini. Mudah dipakai dan sangat bermanfaat bagi orang Indonesia di segala bidang profesi yang ingin mempertajam, menepatkan, dan memfasihkan kegiatan berkomunikasinya.
”Salah satu hal yang membuat kamus karya Stevens dan Schmidgall-Tellings ini lain dari kamus-kamus Indonesia-Inggris terdahulu adalah dimasukkannya banyak kata baru dari bahasa-bahasa daerah yang bahkan belum dicatat oleh kamus resmi bahasa Indonesia; taruh misalnya Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dengan penyelia Anton M. Moeliono, serta sumbernya Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) oleh W.J.S. Poerwadarminta, serta Kamus Modern Bahasa Indonesia (KMBI) oleh Muhammad Zain yang kemudian dibongkar-pasang oleh J.S. Badudu menjadi Kamus Umum Bahasa Indonesia,” demikian komentar Remy Sylado. Silakan nikmati ulasan Alif Danya Munsyi tentang kamus ini. (pernah dimuat koran Pikiran Rakyat, 13 Agustus 2005)
Lengkapkah Kamus Lengkap? Oleh ALIF DANYA MUNSYI
SEBAIKNYA, orang yang belajar bahasa, jangan hanya memiliki satu kamus saja. Sebab, boleh jadi kamus yang satu lebih rinci menerangkan suatu lema tertentu dan kamus yang lain tidak. Sebaliknya, bisa saja pada lema yang lain kamus yang satu kurang lengkap dibanding kamus yang lain. Ini biasa terjadi. Dan, justru dari banyak pengertian kata yang dibaca dalam kamus-kamus tersebut, orang dapat mencamkan dengan lebik baik mengenai pelbagai makna dari sebuah lema dari bahasa yang dipelajarinya itu.
Sekarang ini ada lagi satu kamus yang baru beredar. Namanya Kamus Lengkap Indonesia-Inggris (selanjutnya disingkat KLII). Penyusunnya Alan M. Stevens dan A. Ed. Schmidgael-Tellings. Penerbitnya Mizan.
Karena judulnya menerakan kata "lengkap", maka sudah tentu harapan pemakainya, kamus ini lebih memuaskan dalam menerangkan dan memberi arti terhadap semua lema yang dicatat ketimbang kamus-kamus yang telah lebih dulu ada; taruhlah misalnya Kamus Umum Indonesia Inggris (KUII) oleh Prof. Drs. S. Wojowasito dan Kamus Indonesi-Inggris (KII) oleh John M. Echols dan Hassan Shadili.
Untuk menguji sampai sejauh mana kata "lengkap" berhak disandang KLII, tentulah harus dengan memukabalahkannya dengan KUII dan KII. Saya kira, cara yang paling sederhana menyimak mukabalah itu adalah dengan melihat dari sudut pandang visual saja atas sisi grafika, yaitu berapa jumlah regel yang diperlukan untuk menerangkan sebuah lema. Regel yang lebih banyak sudah tentu berarti banyak pula kumpulan huruf yang dibangun menjadi kata dan kata menjadi kalimat, lalu kalimat-kalimat itulah yang memberikan pengertian kepada pembaca mengenai lema-lema bersangkutan.
Coba kita perhatikan jumlah-jumlah regel yang diacu untuk lema-lema tertentu dalam mukabalah di bawah ini (lihat tabel). Dengan menghitung jumlah regel untuk melihat panjangnya keterangan terhadap sebuah lema tertentu sebagaimana yang terbaca dalam contoh-contoh di atas, maka tahulah kita bahwa KLII yang ditaruh di urutan pertama ini memang nyata lebih lengkap dibanding dengan kamus yang lain. Oleh karena itu, dapatlah dibayangkan bahwa kamus ini pasti dikerjakan dengan lebih banyak waktu untuk mengamati dan meneliti kata-kata dan bahasa-bahasa terpakai di antero Nusantara sehingga hasilnya karuan harus dibilang, kamus ini amat memuaskan bagi pemakainya.
Salah satu hal yang membuat KLII ini lain dari kamus-kamus Indonesia-Inggris terdahulu adalah dimasukkannya banyak kata baru dari bahasa-bahasa daerah yang bahkan belum dicatat oleh kamus resmi bahasa Indonesia; taruh misalnya Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dengan penyelia Anton M. Moeliono, serta sumbernya Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) oleh W.J.S. Poerwadarminta, serta Kamus Modern Bahasa Indonesia (KMBI) oleh Muhammad Zain yang kemudian dibongkar-pasang oleh J.S. Badudu menjadi Kamus Umum Bahasa Indonesia.
Di antara kata-kata baru yang dimaksud di atas adalah yang dipetik dari bahasa Minahasa --bahasa yang pernah diteliti dengan cermat oleh J.A.T. Schwarz pada abad ke-19-- antara lain bakupiara, baveto, cui, fufu, jo, ngana, opo, opo-opo, paniki, ponoso, rica-rica, RW 1 (rintek wuuk), tonaas, torang. Dari mana KLII memungut kata-kata yang diberinya tanda (Min), artinya Minahasa, ini, entah. Pertanyaan ini dirasa perlu sebab biasanya yang suka melintas-lintaskan kata-kata bahasa-ibu ke dalam bahasa resmi adalah para pesastra dalam karya-karya sastranya; sementara pesastra dari latab bahasa-ibu Minahasa dalam peta kesastraan Indonesia sangatlah sedikit, tidak sebanyak pesastra dari latar bahasa-ibu Minangkabau, Batak, Sunda, dan akhirnya Jawa.
Bahwa bahasa-bahasa daerah --khususnya Minangkabau dan kemudian Jawa, termasuk Sunda, amat banyak memenuhi kamus resmi bahasa Indonesia --termasuk KLII ini-- bisalah dimengerti, jika hal itu diingatkan oleh banyaknya pesastra dari latar bahasa-ibu masing-masing suku itu yang hadir dalam peta kesastraan Indonesia sejak zaman Balai Pustaka. Kita tahu, peran pesastra dengan latar bahasa-ibu --walaupun tanpa menunjuk dengan persis dan rinci akan contoh-contohnya dalam KLII ini-- toh boleh dibilang besar andilnya dalam pengembangan dan pembakuan bahasa Indonesia yang sekarang.
Sebelum kemerdekaan, penulis-penulis sastra Indonesia hampir seluruhnya berasal dari Sumatra, yaitu Minangkabau dan Batak. Sebuat saja, dari latar budaya Batak, yang lahir di ujung abad ke-19, Merari Siregar; kemudian dari dasawarsa pertama abad ke-20 abang-adik Sanusi dan Armijn Pane, lalu yang dilahirkan dasawarsa 1920-an Sitor Situmorang dan Iwan Simatupang serta Mochtar Lubis. Kemudian, para pesastra dari latar bahasa-ibu Minangkabau yang lahir di pengujung abad ke-19 adalah Marah Rusli, Nur Sutan Iskandar, Aman Dt. Madjoindo. Dan yang lahir di dasawarsa pertama abad ke-20 adalah Rustam Effendi, Muhammad Yamin, HAMKA, dan Sutan Takdir Alisjahbana. Tak heran, sejumlah kata bahasa Minangkabau lantas melintas ke dalam budaya Indonesia dan dibakukan oleh kamus-kamus resmi.
Setelah Indonesia merdeka, tampil pesastra-pesastra penting dari latar bahasa-ibu Sunda. Yang paling tua, lahir dari dasawarsa kedua abad ke-20 adalah Achdiat K. Mihardja dan Aoh K. Hadimadja; kemudian, dasawarsa berikut Utuy Tatang Sontani, Mh. Rustandi Kartakusumah, Ramadhan KH, Toto Sudarto Bachtiar,; dan dari dasawarsa 1930-an Ajip Rosidi. Lagi, tidaklah heran jika idiom-idiom Sunda menjadi napas dan roh budaya Indonesia melalui karya-karya sastra itu.
Kini, yang menentukan perkembangan sastra Indonesia --yang otomatis boleh diartikan juga perkembangan bahasa nasionalnya-- adalah pesastra-pesastra dari latar bahasa-ibu Jawa. Yang amat penting disebut, dari kelahiran dasawarsa 1920-an adalah Subagio Sastrowardojo dan Pramoedya Ananta Toer; kemudian dari 1930-an Kirdjomuljo, Harijadi S. Hartowardojo, Nugroho Notosusanto, Umar Kayam, WS Rendra, Budi Darma; dan dari 1940-an Kuntowijoyo, Sapardi Djoko Damono, dan Goenawan Mohamad. Maka, janganlah heran jika kata-kata bahasa Jawa, mulai dari Kami, Kromo-hinggil, sampai Ngoko, melintas dengan leluasa dalam tatanan bahasa Indonesia melalui tulisan-tulisan para pesastra.
Ada beberapa pula kata bahasa Jawa, yang bahkan belum masuk di dalam KBBI, tetapi sudah dicatat di KLII ini. Dua di antaranya adalah "usreg" dan "slilit". Seingat saya,"usreg" pertama kali muncul dalam salah satu tulisan Goenawan Mohamad di majalah Zaman dan "slilit" pertama kali muncul melalui tulisan Emha Ainun Nadjib. Dan, jika kita baca "Para Priyayi", kita temukan begitu banyak kata bahasa Jawa yang diacu Umar Kayam, mulai dari halaman pertama sampai akhir. Kata-kata itu belum dicatat oleh KBBI, tetapi malah sudah muncul di KLII, antara lain "sengak", "kecing", bahkan "jembut".
Sementara kata-kata bahasa Sunda, yang muncul dalam puisi penyair berlatar bahasa-ibu Sunda, yang juga belum dicatat oleh KBBI tetapi sudah masuk dalam KLII, antara lain "ngungu" dalam "Tanah Kelahiran" dari kumpulan puisi Ramadhan KH, "Priangan si Jelita"; dan "rokok kawung" --jenis rokok paling dikenal kalangan petani dan jelata di Priangan-- dalam "Nyanyian Dinihari" dari kumpulan puisi Ajip Rosidi, "Surat Cinta Enday Rasidin".
Kesimpulannya, KLII bukan saja hanya lengkap dibanding KUII dan KII, namun juga lengkap dibanding KBBI. Tetapi, saking predikat lengkap itu hendak diperhatikan, maka ada pula kata-kata yang tergolong aneh dilengkap-lengkapkan di dalamnya, misalnya "dangdutwan" (male pop musician) dan "hondawan" (a Honda motorcyclist).
Sementara, salah satu lema yang keterangannya kurang tepat adalah "mbeling" (disobedient, insubordinate, to offer passive resistance, unconvensional). Saya kira, keterangan KII secara leksikal lebih tepat, naughty of children. Tetapi, memang menyangkut gerakan yang dicetuskan di Bandung pada 1972, maka keterangan guru besar Marshal Clark dari University of Tasmania sebaiknya diperbandingkan di sini; "This meaning has also taken on the connotation of witty playfulness or mischievousness. In termas of modern Indonesian literary studies, the word mbeling has been associated with Remy Sylado's puisi mbeling, antiestablishment poetry, poetry that subverts the social, political, or literary status quo." (Catatan ini diberikannya di sebuah kelas di University of Melbourne ketika berlangsung Sixth National Conference of the Australian Society of Indonesian Language Educator, 10-12 Juli 2001).
Selain itu, aneh juga, pada entri seni tertera kata "seni murahan". Dikatakan, lema ini dalam bahasa Inggrisnya kitch. Timbul pertanyaan, apa itu kitch dalam bahasa Inggris? Baik New Webster Dictionary yang dilengkapi dengan Roget's Thesaurus maupun Webster Approved Dictionary yang dilengkapi dengan Dictionary of American Slang, serta The American Heritage Dictionary dan Longman Dictionary of English Language and Culture', bahkan Encyclopedia Americana, tidak menunjukkab bahwa kitch adalah bahasa Inggris.
Jadi, dari mana kata itu?
Kalau yang dimaksud adalah "seni murahan", niscaya kata itu akan tersua di kamus-kamus bahasa Jerman. Namun, dalam bahasa Jerman, "seni murahan" itu harus ditulis dengan huruf "s" di tengah-tengah antara "t" dan "c", yaitu "kitsch". Jadi, bukan tanpa "s" seperti yang diacu KLII. Kata kitsch berasal dari abad ke-19, di Muenchen, Jerman, ketika orang memukabalahkan tentang seni yang bernapas panjang dan yang semata-mata hiburan. Di Indonesia, kata kitsch pernah populer pada 1950-an melalui tulisan-tulisan kritik musik Amir Pasaribu.
Barangkali di situlah benarnya anjuran tadi, bahwa sebaiknya orang yang belajar bahasa jangan hanya memiliki satu saja kamus. Seseorang tidak pernah mengerti mukabalah "lengkap" dan "kurang" jika kamus yang dimilikinya cuma satu.[]
7th Islamic Book Fair*
*Ahad, 2 Maret 2008* 10.00-12.00 Bedah Buku "Hikayat Doa" (Panggung) Pembicara: Syu'bah Asa, KH. Abdurrahman Wahid, Chaerul Umam 10.00-12.00 Talk Show " Mengungkap Konspirasi Asing di balik Aliran Sesat" (Ruang Anggrek) Bersama: Munarman SH (Mantan Ketua YLBHI), Muhammad Al Kahththath (Sekjen FUI) Prof. DR. Nasarudin Umar* (Dirjen Bimas Islam) 13.00-15.00 Bedah Buku " Mossad Behind Every Conspiracy" (Panggung) Bersama Herry Nurdi 13.00-15.00 Bedah Buku "Magnet Muhammad" (Ruang Anggrek) Pembicara: Bambang Trimansyah 16.00-18.00 Bedah Buku " Kebebasan Financial" (Panggung) Pembicara: Ahmad Gozali 19.00-21.00 Bedah Buku "The Power of Al-Fatihah" (Panggung) Pembicara: Prof. DR. Ir. M. Amin Aziz
* * *Senin, 3 Maret 2008* * * 08.30-12.00 Field Trip SD & TK (Ruang Anggrek & Outdoor) 10.00-12.00 Talk Show "Khilafah Centre" (Panggung) 13.00-15.00 Talk Show Bank Syariah Mandiri (Panggung) 13.00-15.00 Talk Show " Marketing Strategi" (Ruang Anggrek) Pembicara: Fredy Rangkuti 16.00-18.00 Talk Show "Ukhuwah Membangun Kemandirian Umat" (Panggung) Pembicara: Prof. DR. Nasarudin Umar & DR. Hidayat Nurwahid. MA (Ketua MPR)
16.00-18.00 Bedah Buku "Hukum Waris" (Ruang Anggrek) Pembicara: Subhan Nurmahmudi & Boby Herwibowo 19.00-21.00 Talk Show "Smart Healing, Kiat Hidup Sehat Menurut Nabi" Bersama: Dr. Mohammad Ali Toha Assegaf, Sandrina Malakiano
* * *Selasa, 4 Maret 2008* 10.00-12.00 Diskusi dan Demo Interaktif : SEFT (Panggung), bersama : Ahmad Faiz 08.30-12.00 Field Trip TK & SD (Ruang Anggrek & Outdoor) 13.00-15.00 Soft Launching Format Baru Majalah Sabili (Panggung) 13.00-15.00 Seminar "Copyright" 16.00-18.00 Talk Show "Ukhuwah Membangun Kemandirian Umat dalam Politik" (Panggung) Bersama: Anis Baswedan, Ph.D 16.00-18.00 Talk Show "Mengenal Allah dengan Cinta" (Ruang Anggrek) Bersama: Ummu Ghaida Muthmainnah & Ira Istadi 19.00-21.00 Talk Show "Debu" (Panggung), Bersam Grup DEBU
*Rabu, 5 Maret 2008* 10.00-12.00 Tausiyah oleh Syekh Muhammad Sayid Sabiq (Penulis Buku Fiqih Sunnah) - Panggung 08.30-12.00 Field Trip TK & SD (Ruang Anggrek & Outdoor) 13.00-15.00 Talk Show "Ukhuwah Membangun Kemandirian Umat dalam Pendidikan" (Panggung) Pembicara: Prof. DR. Arief Rachman M.Pd & Setia Darma Majid 16.00-18.00 Talk Show Majalah Gontor (Panggung), Bersama: K.H Abdullah Syukri Zarkasy 16.00-18.00 Peluang Promosi di Media Cetak (Ruang Anggrek) Bersama: Irwan Kelana (Wartawan Republika) 19.00-21.00 Semifinal Festival Nasyid (Panggung) * *
*Kamis, 6 Maret 2008* 10.00-12.00 Bedah Buku "Perspektif Islam dalam Kristologi" (Panggung) Bersama: Ust. Solichan & Adian Husaeni MA.* 08.30-12.00 Field Trip TK & SD (Ruang Anggrek & Outdoor) 13.00-15.00 Bedah Buku "Aisyah & Maisyah" (Persiapan Keuangan Menuju Pelaminan) - Panggung Bersama: Ahmad Gozali 16.00-18.00 Talk Show "Menggapai Mimpi bersama Laskar Pelangi" (Panggung) Bersama: Andrea Hirata 16.00-18.00 Training Insight "Membangun Pribadi Sukses & Launching CD Interaktif Insight" (Ruang Anggrek) Bersama: BS Wibowo 19.00-21.00 Semifinal Festival Nasyid (Panggung) * * * *
*Jum'at, 7 Maret 2008* 10.00-12.00 Talk Show "Majalah Ummi & Annida" bersama: Ust. Yusuf Mansyur (Panggung) 13.00-15.00 Bedah Buku "Nazharat Fi Risalah Ta'lim"(Panggung) Bersama: Ust. Faridh Dhofir & Muhammad. Syamlan 13.00-15.00 Bedah Buku "Bercermin kepada Bening" (Panduan Taubat untuk Wanita) – Ruang Anggrek Bersama: Anneke Putri 16.00-18.00 Bedah Buku "Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib" (Panggung) Bersama: Adian Husaeni MA. & Asep Sobari Lc. 16.00-18.00 Bedah Buku "Nabi-nabi Palsu dan Para Penyesat Agama" (Ruang Anggrek) Bersama: Hartono Ahmad Jaiz & Ust. Kholil Ridwan (MUI) 19.00-21.00 Tafsir Imam Syafi'i (Panggung) * *Bersama: Syeikh Ahmad Mustafa Al- Farran
*Sabtu, 8 Maret 2008* 10.00-12.00 Bedah Buku Rame-rame "Kelompok Penerbit Pro-U Media" (Panggung) Bersama: Salim A Fillah, M. Fauzil Adhim, Fatan Fantastic, Budi Hartono, Mas Udik Abdulah, Nazip Masykur 13.00-15.00 Talk Show Penerbit Zikrul Hakim (Panggung) 13.00-15.00 Training "Speed Reading & Launching CD Interaktif Speed Reading" (Ruang Anggrek) Bersama: Erwin Kurnia Wijaya S.Pd 16.00-18.00 Bedah Buku "Eramuslim Digest" (Panggung), Bersama: Rizki Ridyasmara 16.00-18.00 Launching Film Ayat-ayat Cinta (Ruang Anggrek), bersama: Artis-artis Film Ayat-ayat Cinta 19.00-21.00 Grandfinal Festival Nasyid (Panggung)
*Ahad, 9 Maret 2008* 10.00-12.00 Talk Show ESQ "Kids & Parenting (Panggung) Trainer ESQ Kids & Ibunda Ari Ginanjar 10.00-12.00 Talk Show "Bismillah Aku Berjilbab" (Ruang Anggrek) Ustz. Dedeh Rosyidah (Mamah Dedeh) & Cici Tegal 13.00-15.00 Bedah Buku "Aisyah the True Beauty" (Panggung), bersama Marissa Haque 13.00-15.00 Bedah Buku "30 Shirah Tokoh Wanita Thabi'in" (Ruang Anggrek) Bersama: Ust. Faridh Dhofir & Ustz Siti Fathiyah Khotib. Lc, MA. 16.00-18.00 Konser Nasyid Akbar & Musikalisasi Puisi (Panggung) Bersama: Shoutul Harokah, Ar Ruhul Jadid, Izzatul Islam, Thaufail Al Ghifari, Ust. Jambary, Taufik Ismail, I.R. A, Samurai Syuhada 16.00-18.00 Ilusi Demokrasi (Ruang Anggrek), bersama Zaim Saidi 18.15-19.00 Pengumuman Stand Terbaik (Panggung) 19.00-21.00 Tausyiah "Ukhuwah Membangun Kemandirian Umat" (Panggung) Bersama: KH Abdullah Gymnastiar Innaa Lillahi wa innaa ilahi rojiun.. Al-baqaa lillah wahdah
Telah pulang ke rahmatullah Ummu Inna istri DR. Hidayat Nur Wahid (Ketua MPR RI) tadi dini hari jam 01.00 WIB (22/1/08)
Semoga Almarhumah di terima disisi Allah SWT dan diampuni segala dosa dan kesalahannya serta diterima segala amal sholehnya. Amin ya Rabb.
http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/01/tgl/22/time/002346/idnews/882083/idkanal/10
ELEVEN TIPS TO MAKE YOUR STUDY EASIER
The Successful in your study is you’re your strong wishes certainly. Just try to follow the eleven steps as bellow: 1. Put the aim of your study, and put the target for it. What for is I study? 2. Choose the friends and milieu which support you to study. Remember the wise word:” The friends before the way.” 3. Choose the suitable places and suitable time for your study. 4. Attempt to know well; what is the lecturer wish with his subject. 5. Read preparation before lecture that helps you to understand the lecture faster and deeper. 6. You must punctually go to lecture. And avoid absenting even once. And attempt to understand the lecturer explanation well. 7. Read the every subject after finishing from lecture that helps you to form your memorizing. 8. Try to write the short paper, and make your lesson as the reference. 9. Make the questions and answer for every chapter. Attempt to get study club with your friends. That helps you to correct your misunderstanding in your lesson if even. 10. Make the summary for every subject, which helps your memorizing easier. 11. Attempt to memorize your lesson, because you need it in your examination.
The last, get study by hard.
Good luck for you.
God bless you.
Pandangan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia terhadap Ahmadiyah Kamis, 17 Januari 2008 Penelitian Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia secara seksama terhadap 12 butir pernyataan Ahmadiyah, bahwa, banyak butir-butir yang bohong ImageHidayatullah.com--Setelah melakukan penelitian secara seksama terhadap 12 butir pernyataan Ahmadiyah yang dikeluarkan seusai Rapat Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem), di Kejaksaan Agung RI, pada Hari Selasa 15 Januari 2008, maka Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) memberikan beberapa catatan. Catatan ini dikeluarkan langsung oleh Pimpinan Pusat Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia yang ditandatangani H. Syuhada Bahri (Ketua Umum) dan H. Wahid Alwi, M.A. (Sekretaris Umum) Berikut catatan penting Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia: 1. Seluruh butir pernyataan Ahmadiyah tersebut belum ada yang secara tegas menyatakan, bahwa Ahmadiyah sudah mengubah keyakinannya yang mendasar tentang status kenabian Mirza Ghulam Ahmad dan tentang adanya wahyu yang turun lagi sesudah Nabi Muhammad saw. Ini bisa dilihat pada pernyataan pada butir ke-3: “Di antara keyakinan kami bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad adalah sebagai guru, mursyid, pembawa berita dan peringatan serta pengemban mubasysyirat, pendiri dan pemimpin jemaat Ahmadiyah yang bertugas memperkuat dakwah dan syiar Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.” Ungkapan “Di antara keyakinan kami” menunjukkan, bahwa ada keyakinan lain dari Ahmadiyah yang tetap dijaga, yaitu Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi penerima wahyu. Hal ini ditegaskan pada butir ke-5 yang berbunyi: “Kami warga Ahmadiyah meyakini bahwa tidak ada wahyu syariat setelah Al-Quranul Karim yang diturunkan kepada nabi Muhammad. Al-Quran dan sunnah nabi Muhammad SAW adalah sumber ajaran Islam yang kami pedomani.” Jadi, kaum Ahmadiyah tetap mengakui bahwa setelah Nabi Muhammad SAW, tetap ada wahyu yang turun, meskipun itu bukan wahyu syariat. Dengan demikian, status Jemaat Ahmadiyah Indonesia dalam pandangan Dewan Da’wah, belum berubah, masih sebagaimana ketetapan fatwa dari berbagai lembaga Islam, baik nasional maupun Internasional. 2. Sejumlah butir jelas-jelas mengandung kebohongan; tidak sesuai dengan fakta yang terdapat dalam buku-buku Ahmadiyah sendiri. Misalnya butir ke-6: “Buku Tadzkirah bukanlah kitab suci Ahmadiyah, melainkan catatan pengalaman rohani Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang dikumpulkan dan dibukukan serta diberi nama Tadzkirah oleh pengikutnya pada tahun 1935, yakni 27 tahun setelah beliau wafat (1908).” Pernyataan Ahmadiyah tentang Tadzkirah tersebut bertentangan dengan kenyataan. Sebab, di dalam kitab Tadzkirah yang asli tertulis di lembar awalnya: “TADZKIRAH YA’NI WAHYU MUQODDAS” (artinya TADZKIRAH adalah WAHYU SUCI). Koran Indo Pos, (8-9-2005), menulis laporan seputar sosok tokoh Ahmadiyah, Sayuti Aziz Ahmad: “Untuk dapat menjalankan titah Nabi Mirza Ghulam Ahmad, umatnya harus memahami “Kitab Suci” Tadzkirah.” Berikutnya ditulis oleh Indopos, bahwa setelah berhasil memahamkan isi kitab Tazkiroh yang kebanyakan berisi tentang kerasulan Mirza Ghulam Ahmad, sebagaimana keluarga Ahmadiyah lainnya, Sayuti pun mengajak istrinya, Hj Afifah, dan keempat anaknya berbaiat atau janji setia agar beriman kepada Nabi Mirza Ghulam Ahmad a.s. Lalu, ia berkata: “Alhamdulillah keluarga saya sekarang sudah seiman. Semuanya kini menjadi pengurus Ahmadiyah.” Butir ke-7 pernyataan Ahmadiyah juga sangat bertentangan dengan fakta yang ada. Pernyataan itu berbunyi: “Kami warga Jemaat Ahmadiyah tidak pernah dan tidak akan mengkafirkan orang Islam di luar Ahmadiyah, baik dengan kata-kata maupun perbuatan.” Bagi umat Islam, sangatlah mudah untuk membuktikan ketidakbenaran pernyataan Ahmadiyah tersebut. Teramat banyak buku-buku dan dokumen-dokumen Ahmadiyah yang selama ini menempatkan umat Islam bukan “saudara seiman” dengan kaum Ahmadiyah, sehinggakaum Ahmadiyah dilarang menjadi makmum shalat kepada kaum Muslim. Dalam Surat Edaran Jemaat Ahmadiyah Indonesia tanggal 25 Ihsan 1362/25 Juni 1983 M, No. 583/DP83, perihal Petunjuk-petunjuk Huzur tentang Tabligh dan Tarbiyah Jama’ah, dinyatakan: “Harus dicari pendekatan langsung dalam pertablighan. Hendaknya diberitahukan dengan tegas dan jelas bahwa sekarang dunia tidak dapat selamat tanpa menerima Ahmadiyah. Dunia akan terpaksa menerima Pimpinan Ahmadiyah. Tanpa Ahmadiyah dunia akan dihimpit oleh musibah dan kesusahan dan jika tidak mau juga menerima Ahmadiyah, tentu akan mengalami kehancuran.” 3. Dewan Da’wah mengajak segenap lapisan masyarakat Muslim untuk tetap menjalankan kewajiban dakwah kepada siapa pun dengan cara-cara yang sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah Rasul. Khusus kepada para dai dan pimpinan Organisasi Islam, Dewan Da’wah mengajak mereka untuk semakin menggiatkan penyebaran informasi tentang “Apa Itu Ahmadiyah” melalui mimbar-mimbar Jumat, majlis taklim, tabligh akbar, seminar, pendidikan agama, dan sebagainya. Ini perlu dilakukan agar umat Islam tidak termakan oleh opini yang keliru bahwa masalah Ahmadiyah sudah selesai dengan keluarnya 12 Pernyataan Ahmadiyah. 4. Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia juga mengimbau kepada seluruh pejabat negara yang Muslim agar dalam mengambil kebijakan lebih menggunakan parameter keimanan Islam dibandingkan parameter-parameter politik sekuler yang temporal dan pragmatis, apalagi dalam hal-hal yang berkaitan dengan masalah keagamaan, seperti kasus Ahmadiyah. Demikian pandangan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia ini disampaikan sebagai wujud kepedulian terhadap problematika umat Islam Indonesia. Tidak ada tujuan semua ini kecuali untuk mencari keridhaan Allah dan untuk kebaikan bersama. http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=6192&Itemid=1Beasiswa dari Pemerintah India tahun Akademik 2008/2009 Sabtu, 05 Januari 08 - oleh : ppmi_koe Berikut kami sampaikan info mengenai Beasiswa dari Pemerintah India sebanyak 20 kursi melalui Indian Council for Cultural Relations (ICCR) untuk tahun akademik 2008-2009. Bila bermanfaat mohon diteruskan kepada mereka yang berminat, karena umumnya setiap tahunnya sangat banyak peminat namun arus informasi mengenai beasiswanya terkadang tidak sampai. Bagi mereka yang membutuhkan informasi atau penjelasan tambahan, kami membuka waktu dan ruang untuk tanya-jawab melalui laman khusus yang telah kami sediakan di http://ppiindia.wordpress.com Terima kasih atas perhatian dan kerjasama dari rekan-rekan, terutama PPMI Mesir, Saudara Talqis Nurdianto, Lc. (Presiden PPMI Mesir sekarang) Semoga informasi ini bermanfaat dan kami nantikan kehadirannya di Negeri Gandhi. New Delhi, 05/01/07 Hormat Kami, Ketua Umum Dewan Pimpinan PPI-India Pan Mohamad Faiz Lampiran General Cultural Scholarship Scheme(GCSS) Government of India, through the General Cultural Scholarship Scheme (GCSS) administered by Indian Council for Cultural Relations (ICCR), has announced the grant of 20 scholarships for Indonesian students and 10 scholarships for students from Timor Leste for the academic year 2008-2009 in the fields of Arts, Architecture, Literature, Commerce, Law, Politics, International Relations, Islamic Studies, Science, etc. and degree courses in Engineering, Pharmacy and Agriculture. The scholarships are also extended for doctoral and post doctoral courses. Interested and eligible candidates may download the Application Form, General Instructions to applicants and Instructions to Candidates for filling the Application Form. The last date for receiving application forms duly completed in all respects in 6 (six) copies alongwith all supporting documents is 31st January, 2008. All candidates will be required to appear in a test in the English language which will be held on 9th February, 2008. Candidates applying from Sumatera may send their applications to: Mr. M.S. Mandhaiya Consul General CONSULATE GENERAL OF INDIA – MEDAN 19, Jl. Uskup Agung A. Sugiopranoto Medan 20152, Sumatera Utara Ph. 061-4531308, 4556452 Candidates applying from Bali may send their applications to: Mr. Awanish Tiwari Deputy Director INDIAN CULTURAL CENTRE BALI Jl. Raya Puputan No. 42-44 Renon – Denpasar – Bali Ph. 0361-241978 All other candidates from other parts of Indonesia may send their applications to: Ms. Anju Ranjan Second Secretary (Press, Info, Education) Embassy of India Jl. H R Rasuna Said Kav S-1 Kuningan, Jakarta Selatan -12950 Ph. 021-5204150/ 52/57 For further information of different scholarships please visit: Embassy of India Jakarta : http://www.embassyofindiajakarta.org/content.php?sid=54Wordpress PPI-India: http://ppiindia.wordpress.com | Category: | Books | | Genre: | Arts & Photography | | Author: | Prof Tariq Ramadan |
Buku ini sudah diterjemahkan oleh Penerbit Serambi semoga deskripsi ini dapat membantu anda dan membuat anda membeli :)
Product Description
Named by Time magazine as one of the 100 most important innovators of the century, Tariq Ramadan is a leading Muslim scholar, with a large following especially among young European and American Muslims. Now, in his first book written for a wide audience, he offers a marvelous biography of the Prophet Muhammad, one that highlights the spiritual and ethical teachings of one of the most influential figures in human history. Here is a fresh and perceptive look at Muhammad, capturing a life that was often eventful, gripping, and highly charged. Ramadan provides both an intimate portrait of a man who was shy, kind, but determined, as well as a dramatic chronicle of a leader who launched a great religion and inspired a vast empire. More important, Ramadan presents the main events of the Prophet's life in a way that highlights his spiritual and ethical teachings. The book underscores the significance of the Prophet's example for some of today's most controversial issues, such as the treatment of the poor, the role of women, Islamic criminal punishments, war, racism, and relations with other religions. Selecting those facts and stories from which we can draw a profound and vivid spiritual picture, the author asks how can the Prophet's life remain--or become again--an example, a model, and an inspiration? And how can Muslims move from formalism--a fixation on ritual--toward a committed spiritual and social presence? In this thoughtful and engaging biography, Ramadan offers Muslims a new understanding of Muhammad's life and he introduces non-Muslims not just to the story of the Prophet, but to the spiritual and ethical riches of Islam. Product Details
* Amazon Sales Rank: #106547 in Books * Published on: 2006-12-11 * Number of items: 1 * Binding: Hardcover * 256 pages
Editorial Reviews
From Publishers Weekly Starred Review. London-based Ramadan, the Oxford research fellow who authored Western Muslims and the Future of Islam, is probably best known for being denied entry into the United States, based on alleged violations of the Patriot Act. This excellent, engaging book ought to turn public attention back toward Ramadan as a writer and a skilled interpreter of Islamic history. In deliberately brief chapters, Ramadan brings Muhammad to life. He highlights Muhammad's resolute faith in spite of setbacks like orphanhood and poverty, and upholds the prophet as a spiritual hero—bravely compassionate and unusually tolerant of others, including non-Muslims. Ramadan notes his extraordinary kindness, even to those he battled. For example, a slave who had been given to Muhammad turned down emancipation, saying he preferred service to Muhammad over freedom with anyone else. (Muhammad immediately freed the slave and adopted him as his own son.) Similar tales of mercy lace through Muhammad's life: in the midst of a battle march, Muhammad advised his troops to be careful not to hurt a litter of puppies on the roadside; on another occasion, Muhammad released prisoners of war because they had taught community children how to read and write. Ramadan ably demonstrates why Muhammad is a spiritual paragon to the followers of Islam. (Feb.) Copyright © Reed Business Information, a division of Reed Elsevier Inc. All rights reserved.
Review "For those interested in the life and times of Muhammad, Ramadan's readable In the Footsteps of the Prophet is a good beginning."--Vali Nasr, Washington Post
"Ramadan's book provides Muslims with a new understanding of the Prophets life. For non-Muslims, it is not just a story of the Prophet, but rather an introduction to Islam's spiritual and ethical riches."--Islamic Horizons
"This excellent, engaging book ought to turn public attention back toward Ramadan as a writer and a skilled interpreter of Islamic history."--Publishers Weekly STARRED REVIEW
Product Description
Named by Time magazine as one of the 100 most important innovators of the century, Tariq Ramadan is a leading Muslim scholar, with a large following especially among young European and American Muslims. Now, in his first book written for a wide audience, he offers a marvelous biography of the Prophet Muhammad, one that highlights the spiritual and ethical teachings of one of the most influential figures in human history. Here is a fresh and perceptive look at Muhammad, capturing a life that was often eventful, gripping, and highly charged. Ramadan provides both an intimate portrait of a man who was shy, kind, but determined, as well as a dramatic chronicle of a leader who launched a great religion and inspired a vast empire. More important, Ramadan presents the main events of the Prophet's life in a way that highlights his spiritual and ethical teachings. The book underscores the significance of the Prophet's example for some of today's most controversial issues, such as the treatment of the poor, the role of women, Islamic criminal punishments, war, racism, and relations with other religions. Selecting those facts and stories from which we can draw a profound and vivid spiritual picture, the author asks how can the Prophet's life remain--or become again--an example, a model, and an inspiration? And how can Muslims move from formalism--a fixation on ritual--toward a committed spiritual and social presence? In this thoughtful and engaging biography, Ramadan offers Muslims a new understanding of Muhammad's life and he introduces non-Muslims not just to the story of the Prophet, but to the spiritual and ethical riches of Islam. Product Details
* Amazon Sales Rank: #106547 in Books * Published on: 2006-12-11 * Number of items: 1 * Binding: Hardcover * 256 pages
Editorial Reviews
From Publishers Weekly Starred Review. London-based Ramadan, the Oxford research fellow who authored Western Muslims and the Future of Islam, is probably best known for being denied entry into the United States, based on alleged violations of the Patriot Act. This excellent, engaging book ought to turn public attention back toward Ramadan as a writer and a skilled interpreter of Islamic history. In deliberately brief chapters, Ramadan brings Muhammad to life. He highlights Muhammad's resolute faith in spite of setbacks like orphanhood and poverty, and upholds the prophet as a spiritual hero—bravely compassionate and unusually tolerant of others, including non-Muslims. Ramadan notes his extraordinary kindness, even to those he battled. For example, a slave who had been given to Muhammad turned down emancipation, saying he preferred service to Muhammad over freedom with anyone else. (Muhammad immediately freed the slave and adopted him as his own son.) Similar tales of mercy lace through Muhammad's life: in the midst of a battle march, Muhammad advised his troops to be careful not to hurt a litter of puppies on the roadside; on another occasion, Muhammad released prisoners of war because they had taught community children how to read and write. Ramadan ably demonstrates why Muhammad is a spiritual paragon to the followers of Islam. (Feb.) Copyright © Reed Business Information, a division of Reed Elsevier Inc. All rights reserved.
Review "For those interested in the life and times of Muhammad, Ramadan's readable In the Footsteps of the Prophet is a good beginning."--Vali Nasr, Washington Post
"Ramadan's book provides Muslims with a new understanding of the Prophets life. For non-Muslims, it is not just a story of the Prophet, but rather an introduction to Islam's spiritual and ethical riches."--Islamic Horizons
"This excellent, engaging book ought to turn public attention back toward Ramadan as a writer and a skilled interpreter of Islamic history."--Publishers Weekly STARRED REVIEW
About the Author Tariq Ramadan is a Research Fellow at St. Antony's College, Oxford University and the Lokahi Foundation (London). He is the author of Western Muslims and the Future of Islam; Islam, the West, and the Challenges of Modernity; and To Be a European Muslim.
 Berburu Buku Seharga Rp 3000 Mizan bersama Gramedia Merdeka mengadakan acara yang diberi nama Berburu Buku Murah Mizan. Acara ini berlangsung 5-31 Januari 2008 di Bargain Book Centre, Toko Buku Gramedia Lt.1, Jl. Merdeka, Bandung. Untuk acara ini Mizan menyediakan berbagai buku-buku dengan harga mulai Rp 3000,- dan diskon minimal 50%. Buku-buku yang tersedia adalah buku anak, buku remaja, novel remaja Islam, buku-buku panduan bisnis, motivasi, buku-buku Islam populer, wacana, novel dewasa dan lain-lain. Selama berlangsunya acara ini jug akan ada happening art, doorprize, gift pembelian. Acara ni merupakan bagian dari peringatan 25 tahun Mizan, dan juga merupakan salah satu bentuk layanan Mizan untuk publik yang telah berperan besar dalam mengantarkan Mizan sehingga dapat berkembang seperti sekarang ini. Untuk informasi tentang acara ini bisa menghubungi Wati (022-7815500) http://www.mizan.com/index.php?fuseaction=emagazine&id=5&fid=50 First ISTAC INTERNATIONAL CONFERENCE ON ISLAMIC STUDIES AND THE CONTEMPORARY WORLD
“Islamic Science in Contemporary Education”
ISTAC is organizing its “First ISTAC International Conference on Islamic Science and the Contemporary World” scheduled to be held from 9th until 10th January 2008 (Wednesday – Thursday) at ISTAC Campus.
The Conference will highlight:
- The Formation of Scientific Mind in Classical Islamic Civilization. - The Impact of Modern Western Science and Technology in the Muslim World. - Towards Making Islamic Scientific Worldview Relevant to Contemporary Science Education.
Speakers are invited from all over the world, including leading philosophers of science at least 20 speakers are to deliver presentations throughout the confrence, with 200 participants coming from abroad and local institutions.
SUB-AREAS: The Relationships between Religion and Science Continuity and Change in the history of Islamic Science The Formation of Islamic Mind: A Case of Muslim intelectuals and scholars Curricula for the Education of Muslim Scientists. The Islamic Scientific Institutions during Islam’s Classical Period: Observatories, Hospitals, Cplleges, etc. Science as Profession in classical Islam (i.e. Physician, Navigator, etc.) Various Universal Figures in Islamic Scientific Enterprises Patronization in Islamic Science The Decline of Classical Islamic Science The Secularization of Science The Impact of Colonial Educational Policies and Curricula on Science Education in Muslim world Muslim Responses to Modern Science and Technology Re-formulation of scientific Scientific Educational Policies in the Muslims World Roles of Governments, Private Sectors and the Media Muslim Scientific Education and the Contemporary World Order
Tentative Speakers:
Prof. Dr. Hans Daiber, Departement of Oriental Studies, University of Frankfurt Prof. Dr. Alparslan Acikgence, Professor of Philosophy Department of History, Fatih University, Ankara, Turkey Prof. Dr. Torla Hj. Hasan, IIUM Prof. Emiritus Datuk Dr. Osman Bakar, ISTAC-IIUM Assoc. Prof. Dr. Baharuddin Ahmad, ISTAC-IIUM Prof. Dr. Cemil Akdogan, ISTAC-IIUM Prof. Dr. Mohammad Ilyas, School of Physics, Universiti Sains Malaysia Prof. Dr. Azizan bt. Baharuddin, Center for Civilizational Dialogue, Universiti Malaya Prof. Dr.Wolfgang Smith, Phsycist, Mathematician, Writer and Philosopher of Science, USA Prof. Dato’ Dr. MD Tahir Azhar, Dean Kulliyah of Medicine, IIUM Assoc. Prof. Dr. Mat Rofa Ismail, Mathematics Department, Universiti Putra Malaysia Prof. Ahmed Zewail, Arthur Amos Noyes Laboratory of Chemical Physics, California Institute of Technology, USA Prof. Abdul Haq Sultan, Head of Phsycs Department, Faculty of Science, Sana’a University, Yemen Prof. Dr. Atta-ur-Rahman, Director of International Center for Chemical Science, H.E.J. Research Institute of Chemistry, Karachi Pakistan Prof. K. Razi Naqvi, Department of Physics, Norwegian University of Science and Technology, Norway Prof. Dr. Ahmad Faris Ismail, Dean, Kulliyah of Engineering, IIUM Prof. Mulyadhi Kartanegara, Director, Center of Islamic Philosophyal Studies and Information, Jakarta, Indonesia Prof. Dr. Muhammad Daifallah Batayneh, ISTAC, IIUM (A visiting Professor from the History Department, Yarmouk University, Irbid-Jordan) Dr. Omar Edwar R. Moad, Department of Philosophy, National University of Singapore, Singapore
DATE/DURATION/ VENUE 9th – 10th January 2008 Main Hall, ISTAC Campus, Wilayah Persekutuan
REGISTRATION FEES
(i) RM 100 (Local or International Student) (ii) USD 300 (International Participant) (iii) RM 400 (Local Participants)
TO PARTICIPATE, PLEASE CONTACT: The Secretariat of International Cpnference on Islamic Science and the Contemporary World
c/o Dean ISTAC, IIUM 205A Jalan Damansara 50480 Kuala Lumpur e-mail address: istac_conference@iiu.edu.my or call: Puan Zainiah or Sr. Rosnawati at 03-2080 2900 ex 228 0r 252
for more details, kindly refer to ISTAC’s official website at www.iiu.edu.my/istac   Banjir Melanda Gontor
Darussalam – "Wah, ternyata bukan hanya Jakarta saja yang bisa banjir, Gontor pun tak luput dari dampak pemanasan global." Ungkap salah seorang staf KMI yang mulai harap-harap cemas banjir malam itu naik sampai ke masjid. Memang musibah tidak dapat diperkirakan. Hujan deras yang mengguyur bumi Darussalam sejak sore hari hingga malam itu (16/12/2007) membuat aliran sungai Malo meluap sampai setinggi paha di tempat terendah. Hujan tersebut juga sempat menunda kegiatan Gladi Kotor Folksong antar kelas yang sedianya akan tampil ketika Idhul Adha nanti. Para santri juga terpaksa menunaikan shalat maghrib di asrama masing-masing dikarenakan hujan masih terlalu lebat. Meskipun hujan agak reda sesaat setelah maghrib, namun langit kembali mencurahkan 'rizki' ketika Muhadhoroh.Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, banjir tersebut mulanya datang dari arah gedung Satelit meluas ke arah Sudan dan Komplek Solihin. Tepat pada pukul 21.30 WIB atau tepat setelah para santri keluar dari kelas Muhadhoroh, banjir mulai datang dan menggenangi jalan Baitul Anshor dan Sudan. Selain itu, banjir juga hanya tampak menggenangi halaman gedung Alighar. Sekitar pukul 22.00 WIB ternyata air dan lumpur mulai meninggi dan mengharuskan para santri yang tinggal di asrama Sholihin dan Saudi lantai satu untuk mengungsi ke masjid. Menurut beberapa asatidz – yang sebelumnya juga pernah merasakan banjir di Gontor – banjir kali ini adalah yang terbesar dalam sejarah Pondok Modern Gontor. Banjir juga pernah terjadi di Gontor pada tahun 2002 tepat pada hari perpulangan, meski volumenya lebih kecil dari banjir juga terjadi pada malam 1 Muharram 1425 H. Banjir kali ini volumenya sedikit lebih besar. Halaman kantor IKPM dan Darul hijroh yang bertempat agak tinggi dan biasanya tidak pernah tersentuh banjir, malam itu tergenang sampai betis. Hanya halaman gedung Indonesia saja yang selamat dari musibah ini. Batas air hanya sampai gedung 17 Agustus dan tidak menyentuh gedung Indonesia, meskipun lapangan hijau di belakangnya juga terendam air. Hari ini (17/12/2007), KMI meliburkan seluruh santri sampai jam ke-2 untuk mengadakan tandzif 'am, membersihkan seluruh Darussalam dari lumpur bekas banjir. Meski musibah tidak dapat diperkirakan, akan tetapi para santri terlihat 'enjoy' saja. Dengan hati penuh keikhlasan, saling bahu-membahu membersihkan Pondok tercinta. Banjir boleh datang, namun hati tetap senang. (sho)   | Category: | Books | | Genre: | Reference | | Author: | John Hick |
Buku ini saya beli 2 hari yang lalu. Tepatnya di Pasar Buku Azbekia. Sama halnya seperti Palasari di Bandung atau Kwitang di Jakarta. Azbekia, merupakan kawasan pasar buku kuno, bekas, dan murah. Beragam bahasa pun dapat kita temukan. Sampai lucunya saya menemukan buku tentang tajwid al-Quran bahasa Indonesia di salah satu kios di kawasan Azbekia. Terlebih si penjual mengatakan bahwa buku tersebut berbahasa belanda. Saya sampai tertawa dalam hati. Ingin rasanya meledek si penjual yang sok tahu itu. Tapi saya urungkan niat tersebut.
Awalnya saya sudah membeli buku yang berkenaan dengan sejarah Al-Azhar. sambil iseng-iseng masuk ke kios yang menjual buku yang berbahasa inggris dalam bidang apa saja. ketika mata saya melirik rak atas sampai akhirnya menemukan buku tersebut. harganya boleh dibilang lumayan untuk kantong mahasiswa. akhirnya tanpa pikir panjang, saya langsung beli dengan posisi tawar menawar tentunya.
Saya akan menggambarkan buku ini secara sederhana, karena buku ini belum dibaca habis. minimalnya bisa tergambar apa yang terdapat dalam buku ini. buku ini terbagi dalam 3 bab
bab pertama: The Theistic Arguments
a. The Ontological Arguments b. The Cosmological Arguments c. The Teological Arguments d. The Moral Arguments e. The Argument from Religious Experience
Bab 2: Discussions and Questionings
Bab 3: Contemporary Problems a. The Question of Verification and Falsafication b. The "Logic of God"
Ini dulu resensi singkatnya bukunya belum saya babat habis ^_^ yang jelas, intinya adalah pembelajaran bahasa Inggris dan Kritis atas Pemikiran!
 Idul Adha Hari Rabu 19 Desember 2007 di Masjid As-Salam Cairo Siaran Pers :
DEWAN DA'WAH SESALKAN PERTEMUAN "SEJUMLAH OKNUM WNI" DENGAN SHIMON PERES
Dalam sepekan terakhir, lebih dari 20 orang tewas karena serangan Israel di Jalur Gaza. Tentara Zionis berkilah mereka mengejar teroris. Sejak tiga bulan lalu, isolasi atas Jalur Gaza juga diperketat. Jalur distribusi bantuan kemanusiaan dari penjuru dunia, terhenti total. Makanan, obat-obatan dan selimut di musim dingin, dilarang masuk oleh tentara Israel. Artinya, jutaan pengungsi Muslim Palestina akan hidup sengsara di cuaca ekstrem, di bawah 15 derajat celcius. Ini belum lagi ditambah dengan kondisi listrik yang dimatikan dan aliran air bersih diputuskan sejak tiga bulan terakhir. Maka Jalur Gaza telah menjelma Auschwitz baru di zaman ini. Ladang pembantaian umat Islam di negeri dan tanahnya sendiri. Di tengah kondisi seperti itu, alangkah mengejutkan berita yang dilansir oleh harian The Jerusalem Post, 8 Desember 2007. Lima orang yang disebut sebagai wakil umat Islam Indonesia, berkunjung ke Israel atas undangan tokoh Zionis Yahudi, Shimon Peres, yang juga Presiden Israel. Atas fasilitas dari LibForAll Foundation dan Simon Wiesenthal Center, lima orang yang kononnya mewakili beberapa Ormas Islam bahkan diberitakan menari dan bernyanyi dengan pemimpin Israel. (Harian Kompas, 8/12/2007, menulis beritanya dengan judul "Ulama RI Bertemu Shimon Peres"). Bahkan, salah seorang undangan, Dr. Abdul A'la, dosen IAIN Surabaya yang diklaim sebagai wakil dari Nahdhatul Ulama dan Prof. Dr. Syafiq Mughni, Ketua Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur mendapatkan hadiah spesial berupa kippa, topi sakral untuk ibadah kaum Yahudi yang disematkan langsung oleh Shimon Peres. Tak hanya itu, delegasi dari Indonesia juga turut merayakan Hari Raya Hanukkah, salah satu hari suci kaum Yahudi. Abdul A'la juga dikutip pernyataannya: "Ada sekelompok kecil ekstremis Muslim di Indonesia." Membaca berita itu, Dewan Da'wah menyatakan, sangat menyesalkan kunjungan beberapa oknum WNI yang diberitakan mewakili sejumlah organisasi Islam dari Indonesia tersebut. Sebagai organisasi yang selama puluhan tahun terlibat aktif dalam upaya penyelesaian masalah Palestina, Dewan Da'wah mengimbau, agar dalam situasi seperti ini seyogyanya beberapa oknum tersebut bertindak berhati-hati dan berkoordinasi dengan organisasi Islam lainnya maupun dengan pemerintah RI, apabila berhubungan dengan pejabat-pejabat Israel, yang jelas-jelas masih menjajah negeri Muslim Palestina. Jika kepergian mereka ke Israel dan bertemu dengan pejabat-pejabat Israel bukan merupakan utusan resmi organisasi Islam di mana dia aktif, maka Dewan Da'wah juga mengimbau agar masing-masing organisasi Islam dapat mengklarifikasi dan menertibkan anggota-anggotanya.
Selama ini ada yang sengaja membuat opini yang salah yang dikembangkan bahwa Shimon Peres adalah tokoh perdamaian dunia, sehingga sebagian oknum umat Islam mau bersuka cita dan bermesraan dengan Shimon Peres. Shimon Peres adalah seorang Yahudi Zionis yang tangan dan karirnya berlumur darah rakyat Palestina, sehingga patut di bawa ke Mahkamah Internasional sebagai penjahat perang. Hidupnya berlumur dosa pembunuhan kaum Muslimin Palestina yang tidak berdosa. Di bawah ini adalah sedikit dari daftar dosa yang pernah dilakukan oleh Shimon Peres.
1. Bersama dengan Ariel Sharon, Shimon Peres bertanggung jawab atas pembantaian di Sabra Satila. Ia tidak saja pembantu sebagai Menteri Luar Negeri, semasa Ariel Sharon menjadi Perdana Menteri Israel, tapi Shimon Peres dan Ariel Sharon telah bersahabat sejak muda. Dua pimpinan Israel yang berlumuran darah rakyat Palestina.
2. Shimon Peres yang bernama Asli Shimon Perski, lahir 16 Agustus 1923 di Polandia, dalam catatannya telah melakukan banyak pelanggaran Hak Asasi Manusia semasa menduduki jabatan tinggi di Israel. Ia pernah menjadi Menteri Pertahanan, Menteri Luar Negeri, Menteri Perdagangan, Perdana Menteri bahkan kini Presiden Israel. Setidaknya, ia telah melanggar Konvensi Jenewa 1957 dengan bersikap ambigu atas kekerasan Israel yang dilakukan pada Palestina. Karena itu pula ia telah melanggar Criminal Justice Act 1988 dan Taking of Hostages Act 1982.
3. Semasa menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Israel, pada Desember 1992, Shimon Peres melakukan pengusiran massal rakyat Palestina dari tanah dan rumahnya. Tanggal 16 Desember 1992, Israel melakukan penangkapan massal atas 1600 pejuang Palestina dan sehari berikutnya, 17 Desember 1992, sebanyak 415 orang dipilih dan dibuang ke Marj al Zahour. Pelanggaran Israel ini telah dikecam oleh Dewan Keamanan PBB dalam sebuah resolusinya: "Having learned with deep concern that Israel, the occupying Power, in contravention of its obligations under the Fourth Geneva Convention of 1949, deported to Lebanon on 17 December 1992, hundreds of Palestinian civilians from the territories occupied by Israel since 1967, including Jerusalem" …Strongly condemns the action taken by Israel, the occupying Power, to deport hundreds of Palestinian civilians, and expresses its firm opposition to any such deportation by Israel".
4. Shimon Peres adalah Pejahat Perang yang sesungguhnya. Karena ia telah terbukti melanggar Artikel 147 dari Konvensi Jenewa yang membahas Perlindungan Warga Sipil di Masa Perang. Karena itu sangat aneh, jika ada orang yang mengaku sebagai umat Islam Indonesia, yang mau "bermesraan" dengan Shimon Peres.
Jakarta, 3 Dzulhijjah 1428 H/12 Desember 2007 Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia
ttd.
M. Syah Agusdin Humas  “Islamic Science in Contemporary Education”
BACKGROUND
ISTAC is organizing its “First ISTAC International Conference on Islamic Science and the Contemporary World” scheduled to be held from 9th until 10th January 2008 (Wednesday – Thursday) at ISTAC, Damansara Campus. Following the 2006 International Conference on Ibn Khaldun, this conference on Islamic Science is part of an ongoing series of ISTAC international conferences on past leading thinkers, contributors and general thoughts on Islamic civilization with the view of making them better known and appreciated in the contemporary world.
The first event in this series was an international conference on al-Ghazali in 2002 and the second was Ibn Khaldun in November, 2006. In light of its theme on "Islamic Science in Contemporary Education", the Conference intends to highlight sub-areas such as:
(i) The Formation of Scientific Mind in Classical Islamic Civilization (ii) The Impact of Modern Western Science and Technology in the Muslim World (iii) Towards Making Islamic Scientific Worldview Relevant to Contemporary Science Education.
Speakers are invited from all over the world, including leading philosophers of science from local institutions, i.e. IPTS and IPTA, government agencies, ministries, embassies and as well as international institutions/universities. At least 18 speakers are expected to deliver presentations throughout the conference.
PROGRAMME The International Conference will be held from 9th to 10th January 2008: Venue : Main Hall ISTAC Damansara Campus No. of Participants : 200 pax DAY 1: 9/1/2008 (Wednesday) 8.00 – 9.00 am : Registration and Arrival of Guests 9.00 – 10.00 am : *Special Address & Official Opening of Conference by YAB Minister of Higher Education, Ministry of Higher Education of Malaysia 11.00 – 1.00 pm : Keynote Speaker 1 Session I (3 papers) 1.00 – 2.30 pm : Lunch & Congregational Zuhr 2.30 – 4.30 pm : Session II (5 papers) 4.30 – 5.00 pm : Tea Break 5.00 pm : End of Day 1 8.15 – 10.00 pm : Dinner for Speakers & Committee members DAY 2: 10/1/2007 (Thursday) 9.00 – 10.00 am :Keynote Speaker II Session III (3 papers) 10.00 – 10.30 am : Tea Break 10.30 – 1.00 pm : Session IV (5 papers) 1.00 – 2.30 pm : Lunch & Congregational Zuhr 2.30 – 4.30 pm : Session V (4 papers) 4.30 – 5.00 pm : Tea Break 5.00 pm - 6.00 pm : Official Closing by YB Deputy Minister of Finance II, Ministry of Finance of Malaysia
* Total Presenters: 20 presenters SUB-AREAS OF THE CONFERENCE The details of sub-areas and suggested papers of the conference are as follows: (i) The formation of Scientific Mind in Classical Islamic Civilization 1. The Relationships between Religion and Science 2. Continuity and Change in the history of Islamic Science 3. The Formation of Islamic Scientific Mind: A Case of Muslim intellectuals and scholars 4. Curricula for the Education of Muslim Scientists 5. The Islamic Scientific Institutions during Classical Period: Observatories, Hospitals, Colleges etc. 6. Science as a Profession in Classical Islam (i.e. Physicians, Navigator etc.) 7. The Various Universal Figures in Islamic Scientific Enterprise 8. Patronization in Islamic Science 9. The Decline of Classical Islamic Science (ii) The Impact of Modern Western Science and Technology in the Muslim World 1. The Secularization of Science 2. The Impact of Colonial Educational Policies and Curricula on Science Education in Muslim World 3. Muslim Responses to Modern Science & Technology (iii) Towards Making Islamic Scientific Worldview Relevant to Contemporary Science Education 1. Re-Formulation of Scientific Educational Policies in the Modern Muslim World 2. Roles of Governments, Private Sectors and the Media 3. Muslim Scientific Education and the Contemporary World Order
 Ikutilah Kajian Naskah Keagamaan Nusantara di Haramyn dan Cairo (Merajut Masa Lalu, Menatap Masa Depan)
Latar Belakang Pada abad ke 17, Mekah dan Madinah (Haramyn) telah menjadi semacam –meminjam istilah Azyumardi Azra (1994)- melting pot, tempat dimana berbagai tradisi keislaman bertemu, berinteraksi, dan kemudian membentuk sebuah tradisi keilmuan tersendiri, yang dikemudian hari menyebar ke berbagai penjuru dunia, termasuk ke dunia Melayu-Indonesia. Penyebaran keilmuan tersebut terjadi melalui saling-silang hubungan guru-murid antara ulama Haramyn dan Melayu-Indonesia atau yang disebut dalam berbagai sumber sebagai ashab al-Jawiyin.
Pada gilirannya, di dunia Melayu-Indonesia sendiri, pengaruh dari saling-silang hubungan tersebut kemudian menyebar dari satu tempat ke tempat lain melalui pola hubungan yang nyaris serupa antara ulama Melayu-Indonesia yang pernah belajar di Haramyn dengan murid-murid yang datang dari berbagai pelosok dan belajar pengetahuan pada mereka.
Kini, sebagai rekaman atas kompleksitas hubungan dan tradisi keilmuan Islam yang terjadi pada masa tersebut, kita dapat menemukan sejumlah besar naskah-naskah kuno (manuskrip) dalam berbagai bidang , seperti, Hadis, Fikih, Tafisr, Tasawuf dan lain sebagainya. Naskah-naskah tersebut jelas merupakan hasil akumulasi dan pergulatan tadisi, budaya, politik, adat-istiadat, dan pergulatan sosial keagamaan masyarakat pada masanya, sehingga memiliki dimensi dan makna yang sangat luas dan kaya.
Beberapa dari naskah keagamaan itu pernah dikaji dan dipublikasikan. Akan tetapi masih terdapat naskah keagamaan dalam jumlah besar yang belum terjamah, khususnya oleh para peneliti lokal sendiri, dan terutama yang tersimpan dalam di berbagai perpustakaan di luar negeri.
Salah-satu perpustakaan yang diduga kuat menyimpan khazanah naskah keagamaan yang berkaitan atau bisa dihubungkan dengan tradisi keilmuan di dunia Melayu-Indonesia adalah Perpustakaan Dar al-Kutub dan Perpustakaan Universitas al-Azhar, Cairo, Mesir.
Sayangnya, identifikasi koleksi naskah perpustakaan- perpustakaan ini yang terkait dengan tradisi keilmuan Islam di dunia Melayu-Indonesia belum banyak di lakukan.
Sebagai salah satu bentuk upaya melestarikan dan merekonstruksi khazanah intelektual tersebut kami Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Mesir (PCINU-Mesir) , berinisiatif akan menyelenggarakan , "Sarasehan Sehari Tentang Kajian Naskah Keagamaan Nusantara di Haramayn dan Cairo."
Narasumber Narasumber sarasehan ini adalah DR. Oman Fathurahman (Research Fellow of Alexander von Humboldt Foundation, Germany)
Signifikasni dan Tujuan Program Program ini dimaksudkan: a. memberikan pengetahuan kepada kelompok sasaran yang menjadi peserta sarasehan tentang khazanah naskah keagamaan pada umumnya, dan yang tersimpan di dua perpustakaan (Dar al-Kutub dan al-Azhar) pada khususnya b. memberikan pengetahuan pada kelompok sasaran tentang langkah-langkah dan tahapan yang perlu dilakukan untuk upaya pengkajian, pelestarian, pemanfaatan naskah-naskah kuno keagamaan c. mendukung upaya penyelamatan, pelestarian, dan pemanfaatan naskah-naskah kuno Nusantara secara keseluruhan
Materi Pelatihan Secara umum materi sarasehan akan terdiri dari beberapa hal berikut: a. gambaran umum dunia pernaskahan di Indonesia b. gambaran umum mengenai saling-silang hubungan keilmuan Islam antara Haramyn, Cairo dan Melayu-Indonesia c. gambaran mengenai naskah-naskah melayu koleksi Dar al-kutub dan al-Azhar yang sudah teridentifikasi d. tahap-tahap dan metode kajian naskah e. gambaran sejumlah penelitian terkait yang pernah dilakukan
Waktu, Tempat dan Masa Sarasehan Sarasehan ini akan dilaksanakan pada 12 Desember 2007, di Sekretariat KPMJB (Keluarga Paguyuban Masyarakat Jawa Barat), Bawwabah III, Nasr City, Cairo, mulai pukul 14.OO sampai jam 20.OO. (Dua sesi)
Peserta Dipersilahkan bagi siapa saja yang berminat dengan membayar infak: Dua Pound (2 Le). Dibayar pas hari –H- di KPMJB.
Nb. Untuk informasi lengkap silahkan hubungi: Muhamad Mawhiburrahman: 0109907964 Irwan Masduki: 22462404/0108248859 Tahniah Selamat Untuk Fahmi Salim, MA yang berhasil mempertahankan tesisnya yang berjudul "KHITHABAT DA'WA FALSAFAT AL-TA'WIL AL-HERMENUTHIQI LI AL-QURAN; 'ARDL WA NAQD" ( Studi analitis-kritis diskursus filsafat Hermeneutika Al-Quran) dihadapan para penguji dengan nilai Summa Cumlaude (Penghargaan Tingkat Pertama) disertai rekomendasi agar disertasi tersebut dicetak atas biaya universitas dan didistribusikan ke universitas- universitas lain.
Perlu diketahui bahwa tesis kang Fahmi adalah tesis yang pertama di Universitas Al-Azhar yang membahas kupas tuntas tentang Hermeneutika Al-Quran. Semoga Ilmunya bermanfaat dan cepat mengabdi tuk Ummah. Amin.
Milyun Mabruk  Character
Fahri bin Abdillah, 28 th (Fedi Nuril) Mahasiswa bersahaja yang memegang teguh prinsip hidup dan kehormatannya. Cerdas dan simpatik hingga membuat beberapa gadis 'jatuh hati'. Dihadapkan pada kejutan-kejutan menarik atas pilihan hatinya.
Aisha, 25 th (Rianti Cartwright) Mahasiswi asing keturunan Jerman dan Turki, cerdas, cantik dan kaya raya. Latar belakang keluarganya yang berliku mempertemukan dirinya dengan Fahri.
Maria Girgis, 26 th (Carissa Putri) Gadis Kristen Koptik yang jatuh cinta pada Islam. Dia menderita karena cinta yang teramat dalam kepada Fahri.
Noura bin Bahadur, 22 th (Zaskia Adya Mecca) Siksa telah menjadi bagian dalam hidupnya. Janin yg dikandungnya menjadikannya terobsesi pada Fahri untuk menjadi ayah dari calon bayinya.
Nurul binti Ja'far Abdur Razaq, 26 th (Melanie Putria) Anak kyai besar di Jawa Timur. Dengan aura yang menenangkan, kecerdasan dan kualitasnya menyatukan segala kelebihannya, dia sangat percaya diri untuk meminang Fahri sebagai suaminya.
Synopsis
Ini adalah kisah cinta. Tapi bukan cuma sekedar kisah cinta yang biasa. Ini tentang bagaimana menghadapi turun-naiknya persoalan hidup dengan cara Islam. Fahri bin Abdillah adalah pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Al Ahzar. Berjibaku dengan panas-debu Mesir. Berkutat dengan berbagai macam target dan kesederhanaan hidup. Bertahan dengan menjadi penerjemah buku-buku agama. Semua target dijalani Fahri dengan penuh antusiasme kecuali satu: menikah.
Kenapa? Karena Fahri adalah laki-laki taat yang begitu ‘lurus’. Dia tidak mengenal pacaran sebelum menikah. Dia kurang artikulatif saat berhadapan dengan mahluk bernama perempuan. Hanya ada sedikit perempuan yang dekat dengannya selama ini. Neneknya, Ibunya dan saudara perempuannya.
Betul begitu? Sepertinya pindah ke Mesir membuat hal itu berubah. Tersebutlah Maria Girgis. Tetangga satu flat yang beragama Kristen Koptik tapi mengagumi Al Quran. Dan menganggumi Fahri. Kekaguman yang berubah menjadi cinta. Sayang cinta Maria hanya tercurah dalam diary saja.
Lalu ada Nurul. Anak seorang kyai terkenal yang juga mengeruk ilmu di Al Azhar. Sebenarnya Fahri menaruh hati pada gadis manis ini. Sayang rasa mindernya yang hanya anak keturunan petani membuatnya tidak pernah menunjukkan rasa apa pun pada Nurul. Sementara Nurul pun menjadi ragu dan selalu menebak-nebak.
Setelah itu ada Noura. Juga tetangga yang selalu disika Ayahnya sendiri. Fahri berempati penuh dengan Noura dan ingin menolongnya. Sayang hanya empati saja. Tidak lebih. Namun Noura yang mengharap lebih. Dan nantinya ini menjadi masalah besar ketika Noura menuduh Fahri memperkosanya.
Terakhir muncullah Aisha. Si mata indah yang menyihir Fahri. Sejak sebuah kejadian di metro, saat Fahri membela Islam dari tuduhan kolot dan kaku, Aisha jatuh cinta pada Fahri. Dan Fahri juga tidak bisa membohongi hatinya.
Lalu bagaimana bocah desa nan lurus itu menghadapi ini semua? Siapa yang dipilihnya? Bisakah dia menjalani semua dalam jalur Islam yang sangat dia yakini?
lebih lanjut silahkan kunjungi situs http://www.ayatayatcintathemovie.com/  Ratusan Ribu Massa Protes Annapolis Rabu, 28 November 2007
Sekitar ratusan ribu massa pendukung Hamas turun jalan menentang Konfrensi Annapolis yang diprakarsai Amerika Serikat (AS)
Hidayatullah.com--Ratusan ribu massa dari penduduk Palestina di Jalur Gaza turun ke jalan melakukan aksi unjuk rasa menentang konferensi Annapolis yang diselenggarakan di Amerika Serikat, Selasa (27/11). Para peserta aksi menyatakan penegasannya akan hak-hak Palestina dan menolak melakukan kompromi.
Massa meneriakkan yel-yel sumpah yang dibacakan pejabat Ketua Parlemen Palestina, Dr. Ahmad Bahr.
Dalam sumpah setia itu, Bahr mengatakan; Kami berjanji kepada Allah, kemudian kepada bangsa kami, bahwa kami tidak akan menerima apapun solusi persoalan Palestina kecuali dengan pembebasan tanah air kami dan tempat-tempat suci serta kembalinya para pengungsi ke tanah air mereka yang dulu mereka diusir darinya tahun 1948. Kami juga tidak akan menjual sejengkal tanahpun kota Al-Quds bersama tanah-tanah lainnya, rumah, Masjid Al-Aqsha dan semua tempat-tempat suci, baik milik Islam maupun milik Kristen. Allah ta'ala sebagai saksi atas apa yang saya ucapkan."
Bahr juga mengumumkan rencana parlemen Palestina membuat tiga undang-undang, yaitu undang-undang tentang hak kembali para pengungsi, melarang kompromi untuk melepaskan Al-Quds dan undang-undang yang melindungi perlawanan dari tangan orang-orang yang tidak bertanggungjawab, mereka yang selalu melakukan koordinasi dengan pihak penjajah Zionis 'Israel'.
Sementara itu, Dr. Mahmud Zahhar, mantan Menlu Palestina yang pernah datang ke Indonesia dan petinggi Hamas juga sebagai Ketua Konferensi Nasional untuk menjaga prinsip-prinsip Palestina, menegaskan bahwa prinsip-prinsip Palestina "tidak berubah dan tidak berganti." Beliau mengisyaratkan bahwa konferensi nasional yang terdiri dari beberapa faksi diantarannya Hamas, Jihad Islami, PFLP (Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina), Saeqah, Brigade Syuhada Al-Aqsha dan Alwiyah Naser, merekalah yang menggetarkan musuh Zionis 'Israel' setiap saat.
Zahhar menjelaskan bahwa aksi unjuk rasa ini "dilakukan sebagai penutupan sesi pertama dari kegiatan konferensi nasional yang merupakan referendum jelas kepada siapa saja melihat."
Beliau menekankan bahwa "Palestina, baik darat maupun lautan yang berbatasan dengan Suriah dan Lebanon di utara dan yang berbatasan dengan Mesir adalah tanah milik kaum Muslimin dan Nasrani bangsa Palestina. Tak ada seorang presiden, negara, umat, generasi ataupun bahkan PBB yang memilikinya walaupun harus ditekan untuk melakukan kompromi melepaskan sejengkal tanahnya."
Zahhar juga menegaskan bahwa hak kembali pengungsi Palestina ke Haifa, Yafa, Al-Quds, Mejdal, Yebna dan Naqurah adalah "hak yang terjaga, yang ribuan PBB tidak bisa untuk mengambil hak kembali bangsa Palestina itu."
Masih tambah Zahhar, "Kami tidak memberikan wewenang kepada siapapun untuk menandatangani suatu perjanjian atau dokumen atas nama kami yang melucuti prinsip-prinsip kami. Barangsiapa yang melakukan hal itu, sejarah akan mencatatnya sebagai pengkhianat hingga hari akhir nanti." [pai/www.hidayatullah.com]
| |