| |
Untuk teman-teman yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi di luar negeri baik jenjang undergraduate dan postgraduate di Malaysia. silahkan anda mencoba untuk mendaftar di insitutisi dibawah kerajaan Malaysia. Fastabiqul Khairaat dan Sebarkan ke Yang Lain!
Terima kasih atas perhatiannya. saya mendapatkan postingan tersebut dari sebuah milis tetangga ^_^
======================================================================
Ministry of Higher Education Malaysia invites applications from international students for the scholarships from Government of Malaysia for academic session 2009/2010. The scholarships are as follows: MTCP Scholarship MIS Scholarship for Undergraduate Studies MIS Scholarship for Postgraduate Studies Commonwealth Scholarship (Comprehensive information is provided in the brochure) A panel established by the Ministry of Higher Education Malaysia will finalise the selection. Deadline: 31th December 2008 For further information about the scholarship contact: Ms. Norkamilah Zaniale-mail: norkamilahz@ mohe.gov. myCara download: langsung kopi paste nama situsnya setelah itu baru login dan anda dapat membacanya via file PDF. selamat membaca dan berselancar di dunia maya.
1. Scholarships For International Students 2009 Brochure
http://www.mohe.gov.my/webkpt_v2/pdf/international_scholarships_brochure.pdf
2. Malaysian International Scholarship (MIS) Application Form
http://www.mohe.gov.my/webkpt_v2/pdf/application%20form%20MIS.pdf
3. Commonwealth Scholarship Application Form
http://www.mohe.gov.my/webkpt_v2/pdf/COMMONWEALTH%20application%20form.pdf
4. Malaysian Technical Cooperation Programme (MTCP) Scholarship Application Form
http://www.mohe.gov.my/webkpt_v2/pdf/MTCP%20application%20form.pdf
5. Medical Form
http://www.mohe.gov.my/webkpt_v2/pdf/medical%20report.pdf
Quo Vadis Politik Sekuler? * (sebuah pengantar singkat) Mahir Mohamad Soleh ** Iftitah Sejak tahun 1924 Kemal Attaturk mengantarkan dunia Islam pada sebuah potongan sejarah tanpa khilafah. Itulah puncak keberhasilan Barat –dibawah pengaruh Zionisme Internasional- melempar Islam dari panggung kekuasaan dan politik. Sekulerisme dalam pengertian yang paling sederhana menjadi nyata di dunia Islam; agama dan negara harus bercerai; agama milik pribadi, sementara negara milik publik; agama hanya boleh bermain di masjid, sementara negara bermain di jalan luas. Istilah Politik Politik bermakna pengetahuan mengenai ketatanegaraan atau kenegeraan, segala urusan dan tindakan kebijaksanaannya, siasat dan sebagainya mengenai pemerintahan sesuatu negara atau terhadap negara lain. Dalam ensiklopedi Rouber politik adalah seni memenej tatanan masyarakat manusia. Problematika Demokrasi Demokrasi mempunyai dua wajah yang berbeda; wajah ideal-ideologis dan real-pragmatis. Sebagai produk sekulerisme, sistem demokrasi lahir hasil pergelutan di antara rasionalitas dan kuasa gereja. Bentuk pemerintahan sekuler, liberal dan pluralis adalah satu-satunya solusi agar tidak terjadi pemerintahan despotik dan autoritarian. Wajah manis demokrasi terlihat ketika menyuarakan “government of the people, by the people, for the people”. Yang memperjuangkan hak-hak asasi manusia seperti terjaminnya kebebasan, persamaan dan keadilan bagi seluruh masyarakatnya. Wajah manis inilah yang berhasil merayu sebagian intelektual Muslim untuk mengadopsi sepenuhnya demokrasi Barat. Demokrasi mempunyai banyak kelemahan. Siapapun yang mengkaji demokrasi secara substantif dan kritis akan dapat melihat kelemahan dan kerancuan dalam sistem ini. Dalam sistem liberal demokrasi, terdapat kekaburan otoritas, pada teorinya rakyat berdaulat namun kedaulatan rakyat hanya terjadi beberapa tahun saja. Yang paling menonjol adalah terlalu banyaknya slogan yang jauh dari kenyataan. Kenyataannya kepentingan golongan elit lebih diutamakan daripada kepentingan rakyat. Wakil rakyat tidak mewakili rakyat akan tetapi mewakili diri sendiri dan golongannya (partai). Politik uang dan penipuan (immoralitas) diterima sebagian dari sistem politik yang sekular. Lutfi Assyaukanie dalam sebuah artikelnya berpendapat bahwa demokrasi yang baik hanya bisa berjalan jika mampu menerapkan prinsip-prinsip sekularisme dengan benar. Sebaliknya, demokrasi yang gagal atau buruk adalah demokrasi yang tidak menjalankan prinsip-prinsip sekularisme secara benar.Maka ini mengindikasikan bahwa landasan ajaran demokrasi tidak terlepas dari nilai-nilai sekulerisme. Sekulerisasi dan Depolitisasi Islam Sekulerisasi di Barat, seperti diakui oleh banyak ahli, sebenernya bertolak dari ajaran Kristen sendiri. Dalam Gospel Matius XXII:21 tercatat ucapan Yesus: “Urusan Kaisar serahkan saja kepada Kaisar, dan urusan Tuhan serahkan kepada Tuhan.” Implikasinya, agama tidak perlu ikut campur dalam urusan politik. Dari sinilah kemudian muncul dikotomi, pemisahan antara kekuasaan Raja dan otoritas Gereja, antara negara dan agama. Doktrin ini dikembangkan oleh St.Augustin yang membedakan kota bumi (civitas terrena) dan kota Tuhan (civitas dei). Faktor lain yang mendorong sekulerisasi di Barat ialah gerakan Reformasi Protestan sejak awal abad ke-16, sebuah reaksi terhadap maraknya korupsi di kalangan Gereja yang dikatakan telah memanipulasi dan mempolitisir agama untuk kepentingan pribadi. Sekulerisme dalam pengunaan masa kini secara garis besar adalah sebuah ideologi yang menyatakan bahwa sebuah institusi atau badan harus berdiri terpisah dari agama atau kepercayaan. sekulerisme dapat menunjang kebebasan beragama dan kebebasan dari pemaksaan kepercayaan dengan menyediakan sebuah rangka yang netral dalam masalah kepercayaan serta tidak menganakemaskan sebuah agama tertentu Dalam istilah politik, sekulerisme adalah pergerakan menuju pemisahan antara agama dan pemerintahan. Hal ini dapat berupa hal seperti mengurangi keterikatan antara pemerintahan dan agama negara, mengantikan hukum keagamaan dengan hukum sipil, dan menghilangkan pembedaan yang tidak adil dengan dasar agama. Hal ini dikatakan menunjang demokrasi dengan melindungi hak-hak kalangan beragama minoritas. Sekulerisme, seringkali di kaitkan dengan Era Pencerahan di Eropa, dan memainkanm peranan utama dalam perdaban barat. Prinsip utama Pemisahan gereja dan negara di Amerika Serikat, dan Laisisme di Perancis, didasarkan dari ajaran sekulerisme Depolitisasi merupakan sebagian proyek sekulerisasi. Sekularisasi menjadi satu keharusan di Barat pada zaman pencerahan karena Barat telah bosan dengan sistem teokrasi dan despotic yang dilakukan oleh golongan agama (rijal ad-din). Sekularisme dan liberalisme adalah solusi bagi masyarakat Barat untuk maju dan modern. Ia adalah formula untuk dapat mengeluarkan masyarakat daripada kegelapan dan keterbelakangan. Masyarakat Barat sebenarnya telah lama menderita selama kurang lebih seribu tahun di bawah pemerintahan gereja yang otoriter sehingga menjatuhkan banyak korban sampai 430.000 orang serta membakar hidup-hidup 32.000 orang dengan alasan melawan kehendak Tuhan. Galileo , Bruno dan Copernicus adalah diantara para ahli sains yang menjadi korban dikarenakan ide-idenya dianggap bertentangan dengan kehendak gereja yang diklaim berasal dari titah Tuhan. Perselisihan Islam dengan sekulerisme bukanlah perselisihan antara dua peradaban (clash of civilization). Akan tetapi sebenarnya adalah pertentangan antara agama dan pemikiran manusia Barat modern. Sekulerisme muncul akibat kekecewaan manusia terhadap pemerintahan agama yang menyebabkan kemunduran dan kegelapan. Manusia Barat mengalam pengalaman pahit dengan agama inilah yang memberontak dan memprotes agama serta bertindak dengan melepaskan diri dari belenggu otoritas Tuhan. Polemik Islam dan Demokrasi Dalam merepson isu demokrasi para cendekiawan muslim terbagi menjadi dua golongan. Golongan pertama menolak demokrasi dengan alasan utamanya karena dalam sistem seperti ini kedaulatan rakyat mutlak diberikan kepada rakyat khususnya dalam membuat undang-undang. Ini bertentangan dengan sistem politik Islam yang menuntut kedaulatan diberikan kepada Allah (al-Hakimiyah Lillah) dengan menjadikan syariah sebagai sumber utama perundang-undangan. Termasuk dalam golongan ini adalah Maududi dan Sayyid Quthb, setelah menolak demokrasi Barat tidak pula menjadikan teokrasi sebetuk bentuk pemerintahan Islam. Golongan kedua yang diwakili oleh Yusuf Al-Qaradawi, Rashid Al-Ghannoushi dan Fathi Osman, menerima demokrasi dengan beberapa catatan. Mereka meyakini bahwa pada dasarnya prinsip-prinsip demokrasi telah ada dalam syariah Islam seperti kekuasaan mayoritas, kekuasaan undang-undang dan pemerintahan perwakilan. Apapun kecendrungan para cendekiawan Muslim dalam menghadapi demokrasi, mereka semua berpegang teguh kepada prinsip kedaulatan Syariah. Bahwa dalam bentuk apapun yang paling penting dalam suatu Negara Islam adalah bahwa Syariah harus berdaulat. Kedaulatan Syariah pada prinsipnya tidak akan memberi ruang kepada pemerintahan yang otoriter dan diktator. Serta dapat menghapuskan kelaliman, diskriminasi dan korupi dengan tuntas. Para cendekiawan Muslim bersepakat bahwa sistem politik Islam sangat berbeda dan bahkan bertentangan dengan sistem teokrasi. Dalam sejarah Barat pemerintahan teokrasi yang memberikan gereja kuasa mutlak adalah bentuk pemerintahan irrasional, anti sains dan anti kemajuan. Sedangkan pemerintahan Islam yang dicontohkan oleh para sahabat adalah pemerintahan yang rasional dan mendukung kemajuan dalam bidang apapun. Alasan-alasan Pendukungan dan Penentangan Sekularisme Pendukung sekularisme menyatakan bahwa meningkatnya pengaruh sekularisme dan menurunnya pengaruh agama di dalam negara tersekulerisasi adalah hasil yang tak terelakan dari Pencerahan yang karenanya orang-orang mulai beralih kepada ilmu pengetahuan dan rasionalisme dan menjauh dari agama dan takhayul. Penentang sekularisme melihat pandangan diatas sebagai arogan, mereka membantah bahwa pemerintahan sekuler menciptakan lebih banyak masalah dari pada menyelesaikannya, dan bahwa pemerintahan dengan etos keagamaan adalah lebih baik. Penentang dari golongan Kristiani juga menunjukan bahwa negara Kristen dapat memberi lebih banyak kebebasan beragama daripada yang sekuler. Seperti contohnya, mereka menukil Norwegia, Islandia, Finlandia, dan Denmark, yang kesemuanya mempunyai hubungan konstitusional antara gereja dengan negara namun mereka juga dikenal lebih progresif dan liberal dibandingkan negara tanpa hubungan seperti itu. Seperti contohnya, Islandia adalah termasuk dari negara-negara pertama yang melegalkan aborsi, dan pemerintahan Finlandia menyediakan dana untuk pembangunan masjid. Namun pendukung dari sekularisme juga menunjukan bahwa negara-negara Skandinavia terlepas dari hubungan pemerintahannya dengan agama, secara sosial adalah termasuk negara yang paling sekular di dunia, ditunjukan dengan rendahnya presentase mereka yang menjunjung kepercayaan beragama. Komentator modern, mengkritik sekularisme dengan mengacaukannya sebagai sebuah ideologi anti-agama, ateis, atau bahkan satanos. Kata Sekularisme itu sendiri biasanya dimengerti secara peyorativ oleh kalangan konservatif. Walaupun tujuan utama dari negara sekuler adalah untuk mencapai kenetralan di dalam agama, beberapa membantah bahwa hal ini juga menekan agama. Beberapa filosofi politik seperti Marxisme, biasanya mendukung bahwasanya pengaruh agama di dalam negara dan masyarakat adalahhal yang negatif. Di dalam negara yang mempunyai kpercayaan seperti itu (seperti negara Blok Komunis), institusi keagamaan menjadi subjek dibawah negara sekuler. Kebebasan untuk beribadah dihalang-halangi dan dibatas, dan ajaran dari gereja juga di awasi agar selalu sejakan dengan hukum sekuler atau bahkan filosofi umum yang resmi. Di dalan demokrasi barat, diakui bahwa kebijakan seperti ini melanggar kebebasan beragama. Beberapa sekularis mengijinkan agar negara untuk mendorong majunya agama (seperti pembebasan dari pajak, atau menyediakan dana untuk pendidikan dan pendermaan) tapi bersikeras agar negara tidak menetapkan sebuah agama sebagai agama negara, mewajibkan ketaatan beragama atau melegislasikan akaid. Pada masalah pajak Liberalisme klasik menyatakan bahwa negara tidak dapat “membebaskan” institusi beragama dari pajak karena pada dasrnya negara tidak mempunyai kewenangan untuk memajak atau mengatu agama. Hal ini mencerminkan pandangan bahwa kewenangan keduniaan dan kewenangan beragama bekerja pada ranahnya sendiri- sendiri dan ketka mereka saling tumpang tindih seperti dalam isu nilai moral, kedua- duanya tidak boleh mengambil kewnengan namun hendaknya menawarkan sebuah kerangka yang dengannya masyarakat dapat bekerja tanpa menundukan agama di bawah negara atau sebaliknya. Kesimpulan Minimal Sekulerisasi politik tidak sesuai dengan ajaran Islam, karena Islam mementingkan peran agama dalam soal pemerintahan dan kepemimpinan. Sekulerisasi akan membuang peranan ulama dalam sistem pemerintahan. Padahal, Rasulullah Saw sendiri sudah mencontohkan dirinya sebagai pemimpin negara, yang diikuti oleh para penggantinya, Khulafa ar-Rasyidin yang semuanya arif dalam masalah-masalah agama. Hemat penulis menceraikan Islam dari kiprah politik akan menghalangi peranan Islam supaya tersebar dalam masyarakat. Akibatnya agama menjadi urusan pribadi bukan publik. Wallahu a’laam bisshawaab Lihat wikipedia
Seminar Tokoh Tajdid Al-Ghazzali "Pencerah Pemikiran Ummah" 11 Mei 2008 (Ahad) Dewan Auditorium SIRIM, Seksyen 2 Shah Alam Masa : 08:30 pagi—05:00 petang Perasmian : YB. Dato' Dr. Hj Hassan Bin Hj. Mohamed Ali, Exco Hal Ehwal Islam, Adat-Adat Melayu, Infrastruktur dan Kemudahan Awam, Kerajaan Negeri Selangor Seminar terbuka, kemasukan percuma Anjuran: WADAH, MUAFAKAT & JABATAN AGAMA ISLAM SELANGOR KERTAS KERJA & PEMBENTANG: Ulama’ Kalam & Falsafah: Al-Ghazali dan Orientasi Baru Ilmu Kalam dan Ilmu Falsafah. Prof. Emeritus Datuk Dr. Osman Bakar, ISTAC UIAM. Pengaruh Pemikiran Tasawwuf al-Ghazali Khususnya di Alam Melayu Ustaz Abdul Aziz Muhammad, Institut al-Quran Terengganu. Memahami Kewajaran dan Kepentingan Tajdid Al-Ghazali Dalam Konteks Zamannya. Dr. Mohd Nor Manuty (CESMAC). Peranan al-Ghazali Dalam Mengharmonikan Wahyu dan Akal. Prof. Madya Dr. Ibrahim Abu Bakar, Fakulti Pengajian Islam UKM. Meneliti Kedudukan Al-Quran dan Sunnah Sebagai Teras Pemikiran al-Ghazali Prof. Zakaria Stapa, Fakulti Pengajian Islam UKM. Al-Ghazali Dalam Pentajdidan Pemikiran dan Amalan Tasawwuf Dr. Muhammad Uthman El-Muhammady, ISTAC UIAM. Pertanyaan: Hubungi Sekretariat 03-55118150 (Wadah Selangor)
الرؤية الكلية الاسلامية وانعكاساتها علي التربية تحت رعاية الأستاذ الدكتور ماهر االدمياطي رئيس جامعة الزقازيق يعقد قسم أصول التربية بالكلية بالاشتراك مع مركز الدراسات المعرفية مؤتمراً علمياً بعنوان (الرؤية الكلية الاسلامية وانعكاساتها علي التربية) وذلك خلال الفترة من 13 ـ 14 / 4 / 2008 رئيس المؤتمر الأستاذ الدكتور محمد السيد عبد الرحمن عميد الكلية رئيس شرف المؤتمر الأستاذ الدكتور عبد الحميد أبو سليمان رئيس المعهد العالمى للفكر الإسلامى مقرر المؤتمر الأستاذ الدكتور محمد صبري الحوت رئيس قسم أصول التربية أمين عام المؤتمر الأستاذ الدكتور عبد الرحمن النقيب المستشار التربوي لمركز الدراسات المعرفية بالقاهرة
Mencintai itu Keputusan (taken from: majalah tarbawi)
Lelaki tua menjelang 80-an itu menatap istrinya lekat-lekat...
Nanar...Gadis itu masih terlalu belia. Baru saja mekar. Ini bukan suatu persekutuan yang mudah. Tapi ia sudah memutuskan untuk mencintainya. Sebentar kemudian ia pun berkata, “Kamu kaget melihat ubanku? Percayalah! Hanya kebaikan yang akan kamu temui di sini.” Itulah kalimat pertama Utsman bin Affan ketika menyambut istri terakhirnya dari Syam, Naila... Selanjutnya adalah bukti... Sebab Cinta adalah kata lain dari memberi... Sebab memberi adalah pekerjaan Sebab pekerjaan cinta dalam siklus memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi, itu berat bukan?.... Sebab pekerjaan yang berat itu harus ditunaikan dalam waktu yang lama. Sebab pekerjaan berat dalam waktu yang lama begitu hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang memiliki kepribadian yang kuat dan tangguh... Maka, setiap orang hendaklah berhati-hati saat ia akan mengatakan: ”Aku mencintaimu”....Kepada siapapun tentunya !!! Sebab itu adalah keputusan besar. Ada taruhan kepribadian di situ. “Aku mencintaimu” adalah ungkapan lain dari “Aku memberimu sesuatu.” Yang terakhir ini adalah juga ungkapan lain dari, “Aku akan memeperhatikan dirimu dan semua situasimu untuk mengetahui apa yang kamu butuhkan untuk tumbuh menjadi lebih baik dan bahagia…. Aku akan bekerja keras untuk memfasilitasi dirimu agar bisa tumbuh semaksimal mungkin…. Aku akan merawat dengan segenap kasih sayangku setiap proses pertumbuhan dirimu melalui kebajikan harian yang akan kulakukan padamu... Aku juga akan melindungi dirimu dari segala sesuatu yang dapat merusakmu dan proses pertumbuhan itu…. Taruhannya adalah kepercayaan orang yang kita cintai terhadap integritas kepribadian kita... Sekali kamu mengatakan kepada seseorang, ”Aku Mencintaimu”... Maka kamu harus membuktikan ucapan itu. Itu DEKLARASI, bukan saja tentang rasa suka dan ketertarikan, Tapi terutama tentang kesiapan dan kemampuan berkorban, Kesiapan dan kemampuan melakukan ”pekerjaan-pekerjaan cinta”: Memperhatikan...Merawat....dan Melindungi... Sekali deklarasi cinta tidak terbukti, kepercayaan hilang lenyap. Tidak ada cinta tanpa kepercayaan. Begitulah bersama waktu, suami istri hilang kepercayaan kepada pasangannya, atau anak hilang kepercayaan pada orang tuanya pun sebaliknya, atau juga sahabat hilang kepercayaan kepoada kawannya, atau rakyat hilang kepercayaan kepada pemimpinnya. Semua dalam satu situasi: Cinta yang tidak terbukti !!! Ini yang menjelaskan mengapa cinta yang tersa begitu panas membara di awal hubungan lantas jadi redup dan padam pada tahun ke-dua, ke-tiga, ke-empat....dan seterusnya... dan tiba-tiba saja perkawinan bubar, persahabatan berakhir, keluarga berantakan, atau pemimpin jatuh karena tidak dipercaya rakyatnya. Jalan hidup kita biasanya tidak liniear. Namun tidak juga seterusnya pendakian...atau penurunan... Karena itu konteks dimana “pekerjaan-pekerjaan cinta” itu dilakukan tidak selalu kondusif secara emosional. Tapi di situlah tantangannya: Membuktikan ketulusan di tengah situasi yang sulit. Di situlah konsistensi teruji. Di situ juga integritas terbukti. Sebab mereka yang bisa mengejewantahkan cinta di tengah situasi yang sulit, jauh lebih bisa membuktikannya dalam situasi yang longgar. Mereka yang dicintai dengan cara yang begitu, Biasanya merasakan bahwa hati dan jiwanya penuh seluruh. Bahagia sebahagia-bahagianya. Puas sepuas-puasnya. Sampai tak ada tempat yang lain. Bahkan setelah sang pecinta mati. Begitulah Naila... Utsman bin Affan telah memenuhi seluruh jiwanya dengan cinta. Maka ia memutuskan untuk tidak menikah lagi saat suaminya terbunuh. Ia bahkan merusak wajahnya untuk menolak semua pelamarnya. Karena... tak ada yang dapat mencintai sehebat lelaki tua itu... Kita terkadang begitu mudah untuk mengatakan... ”Aku Mencintaimu...” Tanpa kemudian menyelami arti dan makna yang begitu dalam di dalamnya... Sehingga tanpa sadar.... Akhirnya banyak jiwa yangtersakiti karenanya... Akhirnya banyak jiwa yang jadi korban karenanya....
Esensi Syukur Oleh: Mahir Mohamad Soleh Siapakah yang tidak menginginkan nikmat agar selalu menjadi miliknya? Sebagai hamba-Nya selayaknya untuk menjaga nikmat-Nya agar tetap selalu menjadi milik kita. Kuncinya adalah dengan bersyukur. Ini sesuai dengan firman Allah dalam al-Qur’an: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu…” (QS Ibrahim [14]: 7). Dalam tafsir Al-Jami’ Al-Ahkam Al-Qur’an, Imam Al-Qurtuby menafsirkan ayat tersebut “Sesungguhnya jika kamu bersyukur terhadap nikmat-Ku maka akan Kutambahkan semua nikmat karena kebaikan-Ku.” Manusia sering kali ketika mendapatkan nikmat hanya sekedar mengucapkan alhamdulillah (hamdalah) tanpa memahami esensi dibalik kalimat tersebut. Bahkan tidak sedikit perbuatannya tidak selaras dengan nikmat yang diberikan sehingga pada hakikatnya ia bukan manusia yang pandai bersyukur. Sedang kufur (ingkar) nikmat Allah akan mendapatkan azab-Nya, sebagaimana firman-Nya “…dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim [14]: 7) Selama ini kita ketahui, watak manusia bila diberi sebuah hadiah dia akan merasa senang dan berterima kasih kepada pemberi hadiah. Analogi ini menyimpulkan sebagai fitrah bahwa manusia senang diberi sesuatu. Bersyukur salah satu bentuk keistiqomahan terhadap kenikmatan yang diberikan atas kita. Bersyukur merupakan sebuah naluri fitrah manusia sebagai bentuk ungkapan terima kasih atas pemberian seseorang. Dalam Sirr Dawaam An-Ni’am, Dr. Faisal ibn Misy’al mengungkapkan bahwa kalimat as-syukru (syukur) dalam al-Qur’an disebutkan sebanyak 77 kali baik dalam bentuk kata subjek, objek, predikat, plural, dan lain sebagainya, yang mengisyaratkan betapa pentingnya bersyukur dalam kehidupan manusia. Ibnu Al-Qayyim dalam Iddat As-Shabirin wa Dzahirat As-Syakirin menegaskan “Kedudukan syukur menempati urutan pertama diatas keridhaan. Ridha bagian dari syukur, sedang syukur adalah setengahnya iman, dan iman terbagi antara lain setengah dari syukur dan sabar.” Kata sifat sabar senantiasa beriringan dengan kalimat syukur. Sebagaimana firman-Nya “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan)-Nya bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur.” (QS Ibrahim [14]: 5, QS Luqman [31]: 31, QS Saba’ [34]: 19, QS As-Syura [42]: 33). Sebagai hamba Allah sepatutnya kita senantiasa bersyukur setiap waktu atas nikmat-Nya yang telah diberikan kepada kita. Dengan bersyukur, maka Allah akan meridhai kepada kita. “…dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu…” (QS Az-Zummar [39]: 7).
Wallahu a’laam bis-showaab
Cairo "Kota Mati" Hari raya Idul Adha, adalah hari raya berbagi kebahagiaan. Yang berkurban dapat membagi-bagikan kurbannya kepada yang berhak. Tentunya sang empunya sendiri mendapatkan hanya beberapa jatahnya. Fenomena berlebaran disini berbeda dengan di Indonesia. Disini ketika matahari mulai terbenam, memasuki malam 10, seantaro masjid di Cairo mengumandangkan takbir, tahmid dan tahlil sebagai ungkapan takzim hamba kepada sang khalik, Allah Swt. Saya baru menyadari bahwa keramaian, kebisingan, sahut-sahutan klaksonan, bis umum yang oleng seolah menghilang dari pandanganku. Ya, ketika hari raya Idul Adha ini memang memang terdapat tradisi "mudik" yang hampir mirip dengan adat Indonesia. Yang membedakan, di sini lebih banyak yang mudik pada hari raya Idul Adha dibanding hari raya Idul Fitri. Entahlah saya juga kurang tahu pastinya, hemat saya mereka lebih "bercengkrama" dengan sanak saudaranya di kampungnya dengan menyembelih kurban-kurban seperti sapi, kambing, kerbau dan unta. Mereka "berpesta" mengisi lebarannya dengan hari-hari yang penuh indah. 3 hari tasyrik yang melarang kita untuk berpuasa agar kita bisa menikmati lebaran yang penuh dengan nilai-nilai kesetikawanan dan sosial. Di sini, hampir tiap rumah mengepukkan asapnya untuk menyate daging yang mereka dapatkan dari para dermawan yang baik hati. "Ah, daging yang jarang kita makan selama ini akhirnya bisa sempat kita rasakan, hamdan laka ya Rabb".
Beberapa hari yang lalu ada yang berubah dengan Cairo, sekedar menyebut beberapa tempat yang sehari-harinya tidak terlepas dari kebisingan, kepadatan, keramaian dan otomatis kemacetan. Tapi ketika hari tasyrik, pemandangan itu "sirna" hanya beberapa hari saja. Ada keindahan dan kesenangan tersendiri menikmati duduknya di atas bis 65 kuning yang biasanya berjejalan dengan penumpang yang sesak, tapi kini kenyataan berbalik 180 derajat. Bis yang kunaiki hanya setengah saja yang terisi oleh para penumpang. Pun jalanan sebegitu luasnya supir mengendarainya dengan pasti tentunya masih tetap mengebut. Distrik Tagamu Awal yang termasuk kawasan New Cairo pun mengalami nasib yang naas. Suasana hening dan sepi. Seakan penduduknya sudah meninggalkan untuk mengadu nasib ke negeri seberang. Semua toko menutupi diri untuk cuti beberapa hari. Hampir mirip dengan kota mati yang sering kulihat di film-film barat. Benar-benar kota mati, ditambah suasana dingin yang mencekam karena Tagamu Awal termasuk daerah pemukiman baru yang masih betetangga dengan padang pasir yang belum terjamah oleh pemerintah. aSuasana lenggang dan sepinya jalanan sempat kunikmati sebagai kebahagiaan tersendiri ketika melintasinya. Namun ada hal yang entah tidak tahu berasal dari mana bahwa ada sesuatu yang hilang dari pandanganku. Tentang Cairo yang berdebu, macet, sesak, ramai dan lain-lain. Ah, entahlah. Ada hal yang menyahut-nyahut pada telingaku "biarkan Cairo seperti adanya". Semilir angin sepoi-sepoi yang merasuki tubuhku. Sore beranjak datang. Ada kerinduan yang begitu membuncah. Aku masih tetap merindukan lebaran di kampung sana. Ya! Bersama ayah ibu dan adikku. Ibunda, Ayah, Bungsu, apa kabarmu sekarang? Wa Ilyas, Selamat tinggal semoga engkau bahagia disana Kan kuteruskan semangat juangmu, insya Allah. Gamie-Cairo, 23 Desember 2007 Pukul 23.09 CLT
Sosok Uwak yang saya kagumi kini telah tiada. Uwak Ilyas walau engkau kini meninggalkan kami namun semangat juangmu akan kami teruskan semoga kelak Cipasung kan lebih bersinar lagi dalam menerangi cahaya ummat Semoga Allah menempatkan engkau di surga maannabiyin wasshiddiqien wassyuhada wassholihin Selamat Tinggal Uwak Ilyas, Perjuanganmu akan kami teruskan !
sila klik http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/12/tgl/18/time/201728/idnews/868931/idkanal/10 http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/12/tgl/18/time/173036/idnews/868859/idkanal/10
Pikiran Rakyat:
Selamat Jalan... Ajengan Santun
JENAZAH K.H. Mohammad Ilyas Ruhiat (73) digotong dari rumah duka menuju masjid di kompleks Pesantren Cipasung Kec. Singaparna Kab. Tasikmalaya, Selasa (18/12).* UNDANG SUDRAJAT/`PR" K.H. Moh. Ilyas Ruhiat, pengasuh pesantren Cipasung Tasikmalaya, telah berpulang ke haribaan Illahi, Selasa, 18 Desember 2007. Ajengan Ilyas, demikian ia dikenal luas oleh publik, lahir 31 Januari 1934, sama dengan tanggal lahir Nahdlatul Ulama (NU). Ajengan yang dikenal sangat santun itu sejak beberapa tahun terakhir memang didera sakit, terutama setelah tidak lagi aktif pada organisasi yang dicintainya, NU. Ada dua hal yang sangat dicintai Ajengan Ilyas, pesantren dan NU. Oleh karena itu, istrinya, almarhumah Dedeh Fuadah, sering berseloroh bahwa dia hanyalah istri yang ketiga. Secara kebetulan, PBNU pada 2008 akan menyelenggarakan HUT-nya dengan tidak mengikuti penanggalan hijriyah tetapi masehi, yakni 31 Januari. Jadi, pada HUT NU yang rencananya akan diadakan besar-besaran itu, Ajengan Ilyas akan berusia 74 tahun dan NU 82 tahun. Ajengan Ilyas adalah pejuang yang sederhana. Ia bukan orator yang bisa membakar massa di podium. Ia bukan pula penulis yang piawai merangkai bunga-bunga kata. Ia berbicara secara bersahaja. Ia pun menulis dengan kalimat sederhana. Ia adalah guru yang ingin agar murid-muridnya mudah menangkap apa yang diterangkannya. Dengan ketulusan dan kesederhanaan itulah dia berjuang. Sebagai pengamal tasawuf, beliau sudah mencapai tingkat yang paling sulit, yakni sanggup untuk tidak berburuk sangka kepada orang lain dan selalu mampu mengendalikan emosi. Ketika ia tampil sebagai pelaksana Rais Aam PBNU 1992 dan kemudian Rais Aam (1994), semua pihak dapat menerimanya. Sekalipun bukan ulama yang paling "pandai" di NU, tetapi tidak ada alasan untuk menolaknya. Hal itu karena Ajengan Ilyas memiliki kesederhanaan dan ketulusan. Ketika NU bersemangat untuk kembali ke khittah 1926, ulama seperti Ajengan Ilyas tampil ke muka, karena khittah itu menitikberatkan pendidikan dan dakwah. Tetapi ketika NU kembali ke "ranah politik", kiai seperti beliau pun surut dan terpinggirkan, digantikan tokoh lain yang lebih sesuai dengan arus yang menguat di NU. Begitulah pasang-surut NU yang diikuti pula oleh naik-turunnya peran Ajengan Ilyas. Yang pasti, ia bukan sosok yang gila jabatan. Umpamanya, seusai kampanye Pemilu 1971 dan ia terpilih sebagai anggota DPRD Jabar dari Partai NU, ia malah memberikan kursi dewan itu dengan "cuma-cuma" kepada orang lain. Ia lebih memilih mengikuti saran ayahnya agar konsentrasi mengajar di pesantren. "Kalau semua ke politik, siapa yang mengurus pengajian?" Amanat itu ia pegang sampai akhir hayatnya. Ia tak pernah meninggalkan Cipasung, sesibuk apa pun kegiatannya di luar mengajar santri. Selain di NU, ia juga pernah menjadi salah seorang ketua MUI Pusat dan anggota DPA. Sebelumnya ia menjadi anggota MPR sebagai utusan dari Jawa Barat. Dalam setiap acara yang diikutinya, Ajengan Ilyas selalu datang tepat waktu dan pulang setelah acara ditutup. Hanya di Muktamar Lirboyo (1999) Ajengan Ilyas tidak mengikuti kegiatan sampai selesai. Dan, sejak itu beliau mulai sakit-sakitan. Namun demikian, ia merupakan pengasuh pesantren yang telah membawa Cipasung hingga dikenal masyarakat luas, di dalam dan luar negeri. Ia adalah Rais Aam NU yang berhasil menjaga "kapal" NU pada prahara politik sebelum reformasi, dan ikut mengantarkan putra terbaik NU sebagai presiden RI ke-4. Ia telah menjalankan tugas kemanusiaannya secara sempurna. Kini, nama baik Ajengan Ilyas akan dipertahankan oleh anak cucunya. Kebesaran pesantren Cipasung akan dijaga dan dikembangkan oleh keluarga Bani Ruhiat seluruhnya. Dan, jejaknya di NU mudah-mudahan akan diteruskan oleh para pengurus ormas terbesar ini. Selamat jalan Ajengan, semoga kami dapat meneruskan perjuanganmu, dalam ketulusan dan kesederhanaan. Iip D. Yahya, penulis buku Ajengan Cipasung (Biografi KH. Moh. Ilyas Ruhiat, 2006)***
K.H. Ilyas Ruhiat Wafat
TASIKMALAYA, (PR).- Umat Islam Indonesia kembali berduka. Salah seorang ulama besar yang juga Pimpinan Pondok Pesantren (Pontren) Cipasung, Kec. Singaparna, Kab. Tasikmalaya, K.H. Mohammad Ilyas Ruhiat (73), telah berpulang ke Rahmatullah, Selasa (18/12), sekitar pukul 16.15 WIB. Hj. Ida Nurhalida, putri kedua almarhum kepada "PR" di rumah duka di Kompleks Pesantren Cipasung, Singaparna, mengungkapkan, sebelum wafat, ayahnya yang mantan Rais Am PBNU itu mengalami stroke selama kurang lebih tiga bulan, hingga akhir hayatnya. "Sebelum Apih (Kiai Mohammad Ilyas -red.) pergi, kami semua sedang menunggunya di kamar Apih. Waktu itu, kondisi Apih mengalami demam serta sesak napas. Sore hari setelah Ashar, tiba-tiba Apih menarik napas panjang sebanyak tiga kali, lalu tidak sadarkan diri. Ternyata, setelah itu, Apih pergi meninggalkan kami semua dengan tenang," katanya. Menurut Ida, sejak lima hari terakhir kondisi kesehatan K.H. Ilyas terus menurun, ditandai panas dan sering sesak napas. Sebelumnya, almarhum sempat dirawat beberapa bulan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, karena komplikasi gula, jantung dan stroke. "Pada 6 November lalu, Apih baru pulang dari RSHS Bandung, dan seterusnya dirawat di rumah hingga akhir hayatnya," katanya. Putra pertama almarhum, Acep Zamzam Noor mengaku benar-benar kehilangan figur yang selama ini sangat ia cintai dan ia banggakan. Baginya, kesederhanaan, kesabaran serta kesantunannya, tidak akan pernah terlupakan. "Pesan yang selalu saya ingat, Apih selalu menekankan agar setiap pekerjaan yang dilakukan, harus benar-benar bermanfaat bagi umat," kata Acep. Ribuan umat Islam sejak sore hingga tadi malam terus berdatangan untuk melayat ke rumah duka. Isak tangis pun seakan tidak pernah putus. Sejak pukul 18.00 WIB, jenazah almarhum dipindahkan dari rumah duka, ke masjid yang berada di depan rumahnya. Saat itu, K.H. Udin, Pimpinan Pontren Nangkelak, memimpin salat jenazah. Menurut rencana, jenazah almarhum akan dikebumikan, Rabu (19/12) pagi, di kompleks makam keluarga, di lingkungan pesantren. Kuburan almarhum Kiai Ilyas Ruhiat, disiapkan berdampingan dengan makam istrinya Hj. Dedeh Fuadah yang telah mendahuluinya pada 19 Juni 2007 lalu. Almarhum meninggalkan tiga anak, yaitu Acep Zamzam Noor, Hj. Ida Nurhalida, dan Hj. Enung Nursaidah Rahayu. Kehilangan besar Bupati Tasikmalaya Tatang Farhanul Hakim mengatakan, kepergian Kiai Ilyas benar-benar merupakan kehilangan besar bagi umat Islam di Tasikmalaya maupun di Indonesia. "Kami kehilangan ulama besar," katanya. Sementara itu, penyair Taufiq Ismail menilai K.H. Ilyas Ruhiat sebagai ulama kharismatik. "Meninggalnya beliau merupakan kehilangan besar bagi bangsa dan negara Indonesia," ujarnya saat dihubungi "PR" kemarin. Hal yang sama juga diungkapkan Keluarga Besar Bengkel Teater, Rendra. "Kami sangat kehilangan. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa-dosanya," ujarnya yang didampingi istrinya, Ken Zuraida. Aktor teater dari Kota Bandung Mohamad Sunjaya mengatakan, dunia kesenian turut berduka cita . "Semoga keluarga yang ditinggalkan bisa menerima cobaan ini dengan tabah," katanya. (A-48/A-97)***
Alhamdulillah... Satu lagi putra Indonesia di Universitas Al-Azhar raih gelar Doktor dalam bidang Fiqh Muqarin (Fiqh Perbandingan) dengan disertasi "Al-Qadhi Husain wa Atsaruhu Al-Fiqhiyah" Dr.Ahmad Zein An-Najah berhasil mempertahankan disertasinya dan mendapatkan nilai "Martabah As-Syaraf Al-Ulaa" (Summa Cumlaude) Semoga ilmu yang didapatkan menjadi sumbangsih bagi umat Islam Indonesia, amin.
Telah Berpulang ke Rahmatullah H. Ali Sarkowi, Lc. Direktur KMI Pondok Modern Darussalam Gontor Pada hari Ahad 7 Oktober 2007 pukul 16.45 di Pondok Modern Gontor 6 Magelang. Semoga Amal Ibadah Beliau di Terima Allah SWT. Amin Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu anhu. Semoga Allah menerima semua amal serta ibadahnya. Dan semoga keluarga yang ditinggalkanya diberikan ketabahan dan ketegaran dalam menerima semua ini. Assalamualaikum wr wb Inna lillah wa inna ilaihi raajiuun Pondok sore ini dalam kedaan berkabung. Menatap sang pejuang telah di panggil oleh Allah SWT untuk di tempatkan pada tempat oran-orang mulia di akhirat sana. Ustadz Ali Syarkowi meninggalkan kita semua pada sore ini. Semoga Allah menerima semua amal serta ibadahnya. Dan semoga keluarga yang ditinggalkanya diberikan ketabahan dan ketegaran dalam menerima semua ini. Semua begitu cepat dan kita semua tak akan pernah tahu kapan Allah akan memanggil meminta kita mempertanggungjawab kan semuanya di hadapan Nya.
salam, berikut sms yang saya dapatkan dari offline teman-teman. .. Innalillahi wa innailaihi rojiun... telah wafat KH M Tidjani Djauhari tadi 02.00 WIB di rumah beliau di Al Amien Prenduan. Penguburan hari ini pk 16.00, Insya Allah. Mohon do'a dan dimaafkan (sms Kyai Idris Jauhari) Juga sms dari Kyai Mahtum dan Kyai Saifurrahman; Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Telah wafat KH Tidjani Djauhari Kamis 27/9/07 dikediaman beliau. Jenazah akan dikebumikan jam 16.00 sore. Maafkan & syukron ala du'aikum al-baqaa lillah wahdah innalillah wa inna ilayhi rajiun semoga KH.Tidjani Jauhari diampuni segala dosa-2nya diterma semua amal ibadahnya dan ditempatkan di sisi-Nya Amin... semoga keluarga dan para santri yang ditinggalkan diberkan ketabahan dan dapat melanjutkan jejak langkah perjuangannya. amin insya Allah ana sempatkan untuk hadir esok sore di pasanggrahan kullu nafsin dzaiqatul maut, Wassalam, Mahir MS
Pondok Pesantren Cipasung Sejarah Singkat Perjuangan Alm. KH. Ruhiat dalam Membina Pondok Pesantern CIpasung Alm. KH. Ruhiat mendirikan dan memimpin Pondok Pesantren ini sejak didirikannya, yaitu akhir tahun 1931, sampai wafatnya tanggal 28 November 1977 bertepatan dengan 17 Dzulhijjah 1397 H. Dalam kurun waktu 46 tahun itu tidaklah sedikit suka dan duka yang menyertai beliau, terutama pada masa pendudukan Belanda dan Jepang. Hal ini dapat dibuktikan pada derap lajunya Pondok Pesantren CIpasung pada masa itu dan masa-masa setelah kemerdekaan negeri ini. 1. Pondok Pesantren Cipasung Pada Masa Penjajahan Belanda Pondok Pesantren yang didirikan pada akhir tahun 1931, itu sudah tentu keadaan Negara yang masih dalam genggaman Kolonial, sehingga tidak mengherankan apabila pada saat itu banyak sekali halangan dan rintangan menghadang, baik dari masyarakat sendiri yang mayoritas belum mengenal ajaran agama dan sedikitnya pengetahuan juga dari pihak Kolonial yang menyebabkan Alm. KH. Ruhiat harus keluar masuk penjara. Walaupun keadaan demikian beliau dengan penuh kesabaran dan ketawakalan kepada Allah subhanahu wata’ala, tidak henti-hentinya membina Pesantren ini dengan ikhlas, memberikan pendidikan dan pengajaran kepada para santri tanpa mengenal lelah siang dan malam. Awalnya santri yang menetap di Pondok Pesantren ini berjumlah kurang lebih 40 orang yang sebagian besar adalah yang ikut dari Pesantren Cilenga, tempat beliau mondok. Di samping itu banyak pula para santri yang pada malam hari mengaji dan siangnya kembali ke rumahnya. Dan mereka ini berasal dari sekitar komplek Cipasung. Sebagai pembinaan agama terhadap anak-anak usia muda, pada tahun 1935 didirikan sekolah agama (madrasah diniyah). Sekolah inilah yang pertama sekali didirikan di Pondok Pesantren Cipasung. Mengingat telah banyaknya santri yang telah dewasa, maka untuk pengkaderan Mubaligh Islam pada tahun 1937 didirikanlah Kursus Kader Muballighin wal Musyawirin (KKM), sebagai suatu wadah latihan berpidato dan musyawarah yang diadakan setiap malam Kamis. Ketahanan aqidah dan jiwa patriotisme beliau dari pesantren mengundang kecurigaan Belanda sehingga beranggapan pesantren dapat mengancam kedudukan mereka. Terbukti dengan banyaknya ulama dan da’I yang ditangkap dan dipenjarakan. Hal ini juga dialami Alm. KH. Ruhiat yang pada tahun 1941 beserta Alm. KH. Zainal Mustofa dipenjara di Sukamiskin selama 53 hari. Selama itu pengajian di wakilkan oleh KH. Saefulmillah dan Alm. Ajengan Abdul Jabbar. Selang beberapa bulan setelah bebas, tepatnya pada tanggal 6 Maret 1942, beliau bersama berpuluh kiai lainya di tangkap lagi dan dipenjarakan di Ciamis. Namun berkat pertolongan Allah pada tanggal 9 Maret 1942 Belanda dipukul mundur oleh Jepang, maka beliau bersama kiai lainnya dibebaskan setelah menjalani hukuman penjara selama 3 hari. 2. Pondok Pesantren Cipasung Pada Masa Penjajahan Jepang Pada masa ini, pendidikan di Pondok Pesantren Cipasung dapat dikatakan sedikit lebih maju yaitu dengan adanya keikutsertaan santri puteri dalam mengaji kitab besar bersama santri putera dimana sebelumnya hanya dapat mencapai ke kitab-kitab tingkat menengah seperti al-Fiyyah. Angkatan pertama ini pelopornya adalah Alm. Hj. Sua, yang berasal dari Cilampung Padakembang Leuwisari. Wafat Tahun1997 dan meninggalkan anak diantaranya Hj. Dra. Djuju Zubaedah. Dengan adanya santri puteri yang sudah dewasa, untuk mengkader mubalighoh maka pada tahun 1943 didirikan Kursus kader Mubalighoh sebagai wahan latihan berpidato khusus bagi santri puteri. Tidak sedikit gangguan dan rintangan yang menerpa beliau dalam tugasa agama dan negara ini. Peristiwa yang menjadi bukti kebenarannya ialah ketika terjadi pemberontakan Sukamanah pada tahun 1944, yang dipimpin oleh Alm. KH. Zainal Mustofa, Alm. KH. Ruhiat serta kiai-kiai lainnya, pada peristiwa tersebut ditangkap dan dipenjara di Tasikmalaya selama 2 bulan. Pengajian pada waktu itu diwakili oleh Alm. H. baruh dan KH. SAefulmillah. 3. Pondok Pesantren Setelah Proklamasi Kemerdekaan Dengan diproklamasikannya Kemerdekaan RI sejak tanggal 17 Agustus 1945 berarti tidak ada satu egarapun yang menguasai negeri ini. Sejak itu Bangsa Indonesia mulai membangun egaranya dalam bidangnya masing-masing demi untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan yang telah dicapai. Demikian pula halnya Alm. KH. Ruhiat yang terjun di dunia Pesantren, dengan diproklamasikannya kemerdekaan, beliau mengembangkan pesantren yang diasuhnya baik dalam pendidikan agama maupun dalam pendidikan umum, hal ini dibuktikan dengan didirikannya lembaga sekolah formal di Pesantren Cipasung setelah kemerdekaan dicapai bangsa ini. Meskipun Kolonial telah hengkang dari bumi pertiwi, namun situasi keamanan masih belumlah stabil terutama dengan datangnya kembali Belanda dengan agresi militernya yang ke II. Keadaan ini berpengaruh pula terhadap penyelenggaraan pendidikan Pondok pesantren. Peristiwa yang mengerikan yang menimpa Alm. KH. Ruhiat pada tahun 1949 waktu beliau sedang melaksanakan shalat Ashar bersama tiga orang santrinya, Belanda berusaha membunuhnya dengan melepaskan tembakan ke arahnya, namun berkat pertolongan dan perlindungan Allah SWT, usaha ini gagal. Dan peluru bersarang pada tiga orang santrinya, yaitu saudara Abdur Rozak yang berasal dari Tawang Banteng, saudara Ma’mun berasal dari Rancapaku keduanya gugur sebagai syuhada dan seorang lainya yaitu saudara Aen mendapat luka berat di kepalanya. Disamping itu adapula santri, yang ketika itu berada di asrama, terkena tembakan, yaitu saudar Abdul ‘Alim, beliau gugur sebagai syuhada, dan saudara Zaenal Muttaqien yang tertembak punggungmya. Sedangkan Alm. KH. Ruhiat ditangkap dan dipenjarakan di Tasikmalaya selama 9 bulan. Beliau dibebaskan kembali pada tanggal 27 Desember 1949. Sementara itu pengajian dipegang oleh KH Ilyas Ruhia.t. Walau beraneka cobaan dan ceriat pahit mengiringinya, beliau tetap sabar dan tawakkal kepada Allah SWT dalam perjuangannya, sehingga pesantrenpun tidak hanyut oleh zaman apalagi karam diterpa gelombang. Malahan ini menjadi cambuk untuk pertumbuhan dan perkembangan Pondok pesantren Cipasung ini. Adapun lembaga pendidikan yang didirikan di Pesantren Cipasung setelah kemerdekaan yaitu pada tahun 1949 didirikan Sekolah Pendidikan Islam (SPI). Pada sekolah ini di samping pendidikan agama diberikan pula pengetahuan umum, lima tahun kemudian, yaitu tahun 1953 sekolah ini berubah nama menjadi Sekolah Menengah Pertama Islam (SMPI) yang mendapat status DIAKUI tahun 1985 denagn nomor 802/102/Kep/i/1985 dan pada tahun 1994 statusnya menjaid DISAMAKAN. Pada akhir tahun 1953 didirikan pula Sekolah Rendah Islam (SRI) yang kemudian berubah menjadi Madrasah Wajib Belajar (MWB), dan sekarang menjadi Madrasah Ibtidaiyah (MI). Sebagai kelanjutan MI, SMPI, pada_ tahun 1952 didirikan Sekolah Menegah Atas Islam (SMAI). Cita-cita beliau untuk mengembangkan Pondok pesantren tidak berhenti sampai disitu saja, akan tetapi beliau mampu pula mendirikan perguruan tinggi Silam yaitu 5 hari sebelum meletusnya pemberontakan G 30 S PKI tepatnya pada tanggal 25 September 1965 dengan Fakultas Tarbiyah yang pertama dibuka, dimana pada tahun 1969 mendapat status DIAKUI dengan Surat Keputusan Menteri Agama No.07 tahun 1969. sekarang statusnya meningkat menjadi TERAKREDITASI. Pada tahun 1969 didirikan pula Sekolah Persiapan IAIN yang kemudian pada tahun 1978 berubah menjadi Madrasah Aliyah Negeri (MAN). Pada tahun 1970 didirikan pula Fakultas Ushuludin filial Cipasung, namun dengan adanya pemusatan ke induknya maka Fakultas ini hanya berjalan dalam dua tahun saja. Dan pada tahun 1992 didirikan pula Madrasah Tsanawiyyah Cipasung (MTs). Semua lembaga-lembaga pendidikan tersebut berada di bawah koordinasi suatu Yayasan Pesantren Cipasung dengan Akta Notaris Yayasan No. 11 tahun 1967. Alm. KH. Ruhiat tidak hanya aktif di dunia pesantren saja, namun beliau aktif pula dalam suatu organisasi Islam yaitu Jam’iyyah Nahdlatul ulama. Jabatan yang pernah beliau duduki ialah Ketua Syuriah PCNU tasikmalaya, Anggota Syuriah PWNU Jawa Barat, dan A’wan PBNU. Dengan tersedianya berbagai pendidikan di Pondok Pesantren, sejak MI sampai Perguruan Tinggi mnaka kian hari bertambah pula santri yang berdatangan dari berbagai pelosok persada tanah air khususnya daerah Jawa Baratd an DKI Jakarta. Hal ini membuktikan bahwa Pondok Pesantren Cipasung dituntu dan diperlukan keberadaannya yang harus dipertahankan kelestariannya, terutama dalam mencetak kader Ulama Intelek dan Intelek Ulama. Di tengah-tengah berbagai kesibukan dari aneka ragam kegiatan disaat umat sangat memerlukan bimbingannya, apa daya hendak dikata tulisan takdir ilahi berlaku atas diri beliau, tepatnya pada hari Senin jam 13.00 tanggal 17 Dzulhijjah 1397 H bertepatan dengan tanggal 28 November 1977 beliau berpulang ke rahmatullah di bandung setelah mendapat perawatan dokter selama 8 hari. Beliau meninggalkan 2 orang isteri dan 19 anak (9 putera dan 10 puteri) sebagai penerus estafet operjuangan beliau, maka puteranya yang bernama KH. Ilyas Ruhiat dikukuhkan sebagai pemegang tampuk pimpinan Pondok pesantren Cipasung.
KH. Ruhiat adalah tokoh terkenal pada zamannya karena dialah pendiri pesantren Cipasung, Singaparna, Tasikmalaya. Namun generasi saat ini kurang lagi mengenal ketokohannya. Bahkan puteranya yaitu KH Iyas Ruhiat lebih dikenal apalagi setelah menduduki jabatan tertinggi di NU sebagai Rais Aam. Hal itu bisa dimengerti, kiai sepuh tersebut telah meninggal 29 tahun lalu. Tanggal 17 Dzulhijjah 1426 H yang bertepatan dengan 17 Januari 2006, adalah haul (peringatan hari wafat) ke-29 KH. Ruhiat. Pesantren Cipasung saat ini merupakan pesantren terbesar dan paling berpengaruh di Jawa Barat. Perannya dalam penyiaran agama, pengembangan masyarakat dan menjaga harmoni sosial sangat besar. Selain keteguhannya mengembangkan pesantren yang responsif pada perkembangan dunia pendidikan, pada masa penjajahan, Ajengan Ruhiat juga seorang patriot yang mengorbankan tenaga dan pikirannya untuk kemerdekaan Republik Indonesia. Ajengan Patriot Jika syarat seorang pahlawan nasional adalah mendukung kemerdekaan sejak awal mula diproklamasikan, maka Ajengan Ruhiat (AR) memenuhi syarat itu. Tak lama setelah berita Proklamasi Kemerdekaan sampai ke Cipasung, AR segera pergi ke kota Tasikmalaya. Dengan menghunus pedang, ia berpidato di babancong, podium terbuka yang tak jauh dari Pendopo Kabupaten. Ia menyatakan dengan tegas bahwa kemerdekaan yang sudah diraih cocok dengan perjuangan Islam, oleh karenanya harus dipertahankan dan jangan sampai jatuh kembali ke tangan penjajah. Ia meneriakkan pekik merdeka seraya menghunus pedangnya itu. Dia tokoh Islam pertama di Tasikmalaya yang melakukan hal itu. Ketika pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) berlangsung, ia tak goyah sekalipun gangguan dari pihak DI sangat kuat. Ia menolak tawaran menjadi salah seorang imam DI. Ia menampik gerakan yang disebutnya ‘mendirikan negara di dalam negara’ itu, karena melihatnya sebagai bughat (pemberontakan) yang harus ditentang. Puncaknya ia hampir diculik oleh satu regu DI, tetapi berhasil digagalkan. Akibat sikapnya yang tegas itu ia mengalami keprihatinan yang luar biasa, karena terpaksa harus mengungsi setiap malam hari, selama tiga tahun lamanya. Kegigihannya sebagai seorang pejuang dibuktikan dengan pernah dipenjara tak kurang dari empat kali. Pertama, pada tahun 1941 ia dipenjara di Sukamiskin selama 53 hari bersama pahlawan nasional KH. Zainal Mustofa. Alasan penahanan ini karena Pemerintah Hindia Belanda cemas melihat kemajuan Pesantren Cipasung dan Sukamanah yang dianggap dapat menganggu stabilitas kolonial. Kedua, bersama puluhan kiai ia dijebloskan ke penjara Ciamis. Ia hanya tiga hari di dalamnya karena keburu datang tentara Jepang yang mengambil alih kekuasaan atas Hindia Belanda tahun 1942. Ketiga, tahun 1944 ia dipenjara oleh pemerintah Jepang selama dua bulan, sebagai dampak dari pemberontakan KH. Zainal Mustofa di Sukamanah. Pada saat itu, Ajengan Cipasung dan Sukamanah lazim disebut dua serangkai dan sama-sama aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Kecintaan sang Ajengan pada NU sangat mendalam, oleh karena itu pada saat Ajengan Sukamanah berbulat tekad untuk melawan Jepang, keduanya membuat kesepakatan. Ajengan Sukamanah tidak akan melibatkan NU secara organisasi dan perjuangannya bersifat pribadi, agar NU tidak menjadi sasaran tembak tentara Jepang. Secara organisatoris, Ajengan Sukamanah menyatakan keluar dari NU (Aiko Kurasawa,1993). Dengan kesepakatan ini, jika terjadi akibat buruk dari perlawanannya--sesuatu yang sudah mereka perhitungkan--, organisasi NU tidak akan terbawa-bawa dan AR tetap bisa mengembangkan NU di Tasikmalaya dan Jawa Barat. Kesepakatan itu dibuktikan oleh Ajengan Ruhiat lewat keterlibatannya di NU sampai ke tingkat pusat. Karirnya di PBNU dibuktikan dengan menjadi A’wan (pembantu) Syuriah PBNU periode 1954-56 dan 1956-59, serta perkembangan NU di Tasikmalaya dan Jawa Barat yang ditunjang oleh para alumni Cipasung. Keempat, ia dijebloskan ke penjara Tasikmalaya selama sembilan bulan pada aksi polisionil kedua, dan dibebaskan setelah penyerahan kedaulatan. Ini membuktikan bahwa AR seorang non-kooperatif sehingga sangat dibenci penjajah yang membonceng pasukan NICA itu. Sebelum masuk penjara yang terakhir itu, sepasukan tentara Belanda datang ke pesantren pada waktu ia sedang solat ashar bersama tiga orang santrinya. Tanpa peringatan apapun, tentara Belanda itu memberondongkan peluru ke arah mereka yang sedang solat. AR luput dari tembakan, tetapi dua santrinya tewas dan seorang lagi cedera di kepala. Mungkin ia tidak disebut sebagai pahlawan karena tidak pernah menduduki jabatan dalam pemerintahan, sebab konsisten memilih jalur pendidikan pesantren sebagai pengabdiannya, bahkan sebagai tarekat-nya. “Tarekat Cipasung adalah mengajar santri,” ujarnya. Atau karena tidak pernah menjadi politisi yang berjuang di parlemen. Sebab katanya, “Biarlah bagian politik itu sudah ada ahlinya, Akang memimpin pesantren saja, jangan sampai semua ke politik. Kalau pesantren ditinggalkan, bagaimana nanti jadinya negara merdeka ini kalau penduduknya tidak berahlak agama?” Melihat track record-nya di atas, sesungguhnya tidak berlebihan jika ajengan patriot itu mendapat pengakuan sebagai Pahlawan Nasional. Responsif dan Terbuka Ajengan Ruhiat lahir pada 11 Nopember 1911 dan wafat 28 Nopember 1977. Hari wafatnya bertepatan dengan 17 Dzulhijjah 1397, dan perhitungan menurut kalender Hijriah inilah yang dijadikan patokan peringatan haul-nya. Ia adalah generasi yang mengalami pedih-perihnya penghinaan terhadap kelompok santri oleh penjajah Belanda dan antek-anteknya. Santri digolongkan sebagai kaum tradisional, kaum sarungan yang berpikiran kolot. Suatu penghinaan yang kemudian diteruskan oleh mereka yang menamakan dirinya kaum modern di kemudian hari, bahkan sampai hari ini. Sebagai jawaban atas penghinaan itu, ia bersikap meniru gaya berpakaian kaum modern. Dalam acara resmi, AR selalu berpakaian rapi, mengenakan jas, pantalon, lengkap dengan dasi. Ketika digugat sebagian orang, ia menjawab, “Untuk mengimbangi, agar jangan sampai kita disebut bangsa yang tak punya cita-cita, dan saya menghargai ilmu agama agar tidak dihina oleh orang lain.” ‘Perlawanan’ atas penghinaan itu selalu dirayakan secara meriah di Pesantren Cipasung pada era kepemimpinannya. Yaitu pada saat khataman Jam’ul Jawami’, sebuah kitab yang dianggap paling sulit dikaji oleh santri. Selain menyembelih kambing dan ritual khataman lainnya, ia bersama santri yang telah khatam (lulus) berpose bersama dengan busana ‘modern’ itu (lihat foto). Sebagai jawaban bahwa Pesantren Cipasung responsif terhadap perkembangan pendidikan, ia memelopori pendirian sekolah umum sejak tahun 1950. Ia merintis pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Untuk perintisan hampir semua lembaga pendidikan formal itu, ia didukung oleh operator lapangan yang sangat tangguh, yaitu Mohammad Ilyas, putera keduanya. Ilyas-lah yang tisusut tidungdung, bekerja tanpa mengenal lelah, mengurusi semua tetek bengek perizinan. Ilyas juga mengambil alih pengajian pesantren, ketika ayahnya dipenjara dan mengungsi, sehingga pesantren Cipasung tak pernah putus pengajian dan santri, sejak didirikan tahun 1932 hingga hari ini. Kerja keras Ilyas itulah yang memudahkan adik-adik dan keluarganya di kemudian hari, untuk mengelola semua lembaga pendidikan di Cipasung. AR termasuk pribadi yang terbuka atas segala perkembangan informasi dalam berbagai bidang. Selain kitab kuning, koleksi bukunya mencakup bidang politik, ekonomi, dan tata negara. Ia menganggap Islam sebagai ajaran dinamis yang selalu harus bisa menjawab tantangan zaman. Dalam catatan Atang Mansur, Ajengan Ruhiat kerap mengutip pendapat Al-Mustarwalidz al-Katib Al-Injily al-Kabir yang terdapat dalam Tafsir al-Jawahir karya Thanthawi Jauhari. “Setiap agama yang tidak bisa mengiringi laju peradaban, maka kesampingkan saja, sebab agama tersebut hanya akan merepotkan para pemeluknya. Agama yang haq adalah Islam (yang berpedoman Al-Quran). Dan Al-Quran ialah kitab (yang memuat persoalan) 1) keagamaan, 2) ilmu pengetahuan, 3) sosial kemasyarakatan, 4) pendidikan-pengajaran, 5)etika, dan 6) sejarah, (yang akan abadi) hingga hari kiamat.” Tetapi cara berpikir AR yang sangat aprogresif tadi luput dari amatan peneliti tentang kyai dan NU. Padahal para kiai seperti dia itulah merupakan akar progresifitas pemikiran Islam pesantren. Pandangannya atas perkembangan politik juga sangat kritis. Ketika Bung Karno mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, secara spontan AR berkata kepada sejumlah santrinya, “Setiap umat yang kembali pada prinsip terdahulu (yang sudah sepakat ditinggalkan) dan tidak mengikuti segala yang berlaku sesuai perkembangan zaman, maka Allah akan merusaknya.” Dengan berseloroh ia mencontohkan bahwa orang yang kembali menumbuk padi padahal sudah ada mesin giling, maka ia akan kerepotan, pegal linu dan kecapekan. Demikian pula dukungannya pada pilihan politik NU, diambilnya tanpa reserve sehingga kebijakan NU dapat disosialisasikan dengan cepat di wilayah Priangan Timur. Misalnya dalam menanggapi konsep Nasakom, ia mengatakan, “Kalau kita tidak menerima Nasakom, PKI akan berkacak pinggang. Menerima Nasakom adalah satu siasat NU yang membuat PKI lupa daratan sehingga lupa akan bahayanya. Mereka merasa ada yang mendukung atas tujuan taktiknya, padahal secara diam-diam orang NU telah siap menghadapi apa yang akan terjadi. Buktinya, ketika orang lain bingung saat PKI melakukan kup, orang NU sudah langsung bisa menetapkan bahwa itu gerakan PKI. Buktinya langsung tanpa ragu meminta pemerintah untuk membubarkan PKI. Alhamdulillah oleh pemerintah Orba dapat dikabulkan, PKI dibubarkan.” Setelah peristiwa 65 terjadi, AR tidak terlibat menoreh ‘luka sejarah’. Di sekitar Cipasung konflik NU-PKI tak setajam di Jawa Tengah atau Jawa Timur. ‘Serangan’ pihak PKI berkisar pada cemoohan, misalnya orang yang sedang mengaji disebut sedang ‘menggonggong’. Memang, belajar dari kasus serangan DI/TII ia sempat mengaktifkan kembali latihan pencak silat, tetapi hanya untuk berjaga-jaga. Bukti bahwa Cipasung tak terlalu terganggu suasana politik waktu itu, ialah peresmian Fakultas Tarbiyah yang kemudian menjadi Institut Agama Islam Cipasung (IAIC), pada tanggal 25 September 1965. Tarikh ini juga menunjukkan bahwa Perguruan Tinggi di Cipasung berdiri tiga tahun mendahului IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. Di situlah ia menunjukkan aprogresivitas pemikirannya. Setelah pemerintah Orde Baru tampil, tokoh-tokoh yang sebelumnya ragu kepada NU banyak yang datang ke Cipasung. Mereka menyatakan ‘pertobatan’ dan percaya bahwa NU tidak pernah punya tujuan khianat dan merongrong kepada bangsa dan negara Indonesia, atau berniat mendirikan negara dalam negara. Mereka kemudian menitipkan sanak saudaranya untuk belajar di Cipasung. “Bagaimana kalau keluarga, anak-anak Anda nantinya menjadi NU?” tanya AR. Kemudian mereka menjawab, “Tidak apa-apa kalau mereka menjadi NU sebab kami percaya NU tidak pernah ada maksud merongrong negara, nusa, dan bangsa.” AR memang dikenal dekat dengan tokoh-tokoh NU dan pesantrennya menjadi persinggahan para tokoh itu jika mengunjungi wilayah Priangan Timur. Ia juga menjadi salah satu teman baik KH. A. Wachid Hasyim. Menurut catatan Saifuddin Zuhri (1987), semua sahabat dekat Pak Wachid biasanya intensif saling surat-menyurati untuk merespon berbagai perkembangan pesantren dan situasi politik nasional. Dalam biografi KH. Masykur yang ditulis oleh Soebagijo I.N. (1982: 97), terdapat sebuah foto yang mengabadikan kunjungan Kiai Masykur, Kiai Wachid ke Cipasung. Dengan cara pandangnya yang terbuka atas berbagai perkembangan duniawi, ia mendorong santrinya yang ingin terlibat dalam pengelolaan negara, baik melalui jalur politik maupun birokrasi. Hal itu sebagai bagian dari keikutsertaan mengisi kemerdekaan, setelah sebelumnya kiai dan santri ikut merebut dan mempertahankan kemerdekaan itu. Karena itu, banyak alumni Cipasung yang menjadi politisi dan mengisi kebutuhan birokrasi terutama di Jawa Barat. Namun demikian ia juga sangat mendukung santrinya yang ingin menjadi ajengan dan membuka pesantren. Misalnya kepada santri asal Garut bernama Memed Sopandi, ia berpesan empat hal. Pertama, sekalipun santrinya hanya satu orang tetap harus diajar dengan sungguh-sungguh. Kedua, jangan berdagang di pasar. Ketiga, jangan jadi aparat pemerintah. Keempat, jangan terlalu suka menerima undangan keluar pesantren sehingga sering meninggalkan pengajian. Lalu ia berkata, “Pulanglah, kalau ada kesulitan dalam pengajian, jangan kembali ke sini, tanya saja Munjid!” Munjid adalah kamus berbahasa Arab karya seorang non-muslim, Louis Ma’luf, di sana terdapat berbagai informasi, baik mengenai keilmuan agama, ilmu sosial maupun ilmu alam, binatang dan tumbuh-tumbuhan. Semua pesan itu tentu saja terlebih dahulu sudah dipraktikkan secara konsisten olehnya. Bahkan pada masa genting ketika pasukan Belanda kerap berpatroli ke Cipasung. Jika patroli datang, ia berpura-pura menjadi petani di sawah. Setelah patroli pergi, ia segera menepi dan menuju dangau terdekat untuk kemudian memberikan pengajian pada santri yang mengikutinya. Ia tak pernah berhenti mengajar di pesantren kecuali saat berada di dalam penjara. Ia juga menolak undangan pengajian dari luar daerah di malam hari, karena khawatir akan meninggalkan jadwal pengajiannya setelah subuh. Pernah suatu ketika warga NU dari Karawang mendesaknya memberikan pengajian di malam hari. Ia menyetujui permintaan itu setelah sahibul hajat berjanji akan mengantarkannya kembali ke Cipasung sebelum waktu subuh tiba. Mudah-mudahan, generasi pengelola Cipasung yang akan datang, dapat lebih memajukan lembaga pendidikan yang dirintis Ajengan Ruhiat, sehingga patriotismenya terus bergelora, dan wasiatnya agar “Jangan sampai ada sebutan ‘bekas pesantren’ tapi harus terus lebih maju”, dapat dipenuhi secara istikomah. Semoga. Penulis Iip D. Yahya, pemerhati sejarah pesantren, tinggal di Yogyakarta
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/062007/21/0903.htm Mengenang Hj. Dedeh Fuadah Ilyas Oleh IIP D. YAHYA ISTRI K.H. Ilyas Ruhiat, Hj. Dedeh Fuadah wafat di RSHS Bandung Selasa, 19/06/2007, pukul 4.00 WIB karena gagal ginjal. Sebelumnya, ia terkena stroke yang berkomplikasi dengan asma dan demam berdarah. Emih, demikian ia biasa disapa di Cipasung, lahir di Tasikmalaya 6 April 1942. Ia meninggalkan seorang suami, tiga orang anak dan sebelas cucu. Ia istri dari ulama besar dan ibunda dari tiga aktivis yang sangat sibuk dengan berbagai kegiatan yang mencerahkan publik. Kiai Ilyas adalah mantan Rais Aam Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU), ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), dan anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Putra sulungnya, Acep Zamzam Noor, bergiat di bidang kebudayaan melalui Komunitas Azan dan kelompok lain. Neng Ida Nurhalida aktif sebagai Ketua PC Fatayat NU Tasikmalaya, selain sebagai Kepala MAN Cipasung dan salah seorang anggota Dewan Syura DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Sementara Enung Nursaidah Rahayu adalah direktur LSM Puspita yang menampung korban kekerasan dalam rumah tangga dari berbagai daerah di Indonesia. Emih berada di belakang aktivitas suami dan ketiga anaknya itu, mengawal dengan restu dan doa. Hampir 40 hari Emih tergolek di rumah sakit. Ketiga anaknya bersama anggota keluarga yang lain bergantian menunggui sang ibunda. Seluruh upaya medis telah dicoba, tetapi Allah telah memanggilnya untuk kembali. Pem |
|